Saturday, March 13, 2010

Kopi, Rokok, dan Kreativitas

Malam telah larut. Mungkin bagi sebagian (besar) orang itu adalah waktu yang paling menyenangkan untuk tidur dan istirahat dari segala hiruk pikuk kesibukan siang hari. Malam merupakan waktu yang sangat pas untuk merefresh kekuatan badan dan mental. Waktu yang harus diisi dengan keheningan total. Seperti meditasi yang mengeningkan cipto wening para dukun jawa.

Namun bagi sebagian (kecil) yang lain tentu saja itu juga menyenangkan, dalam konsep pemanfaatan waktu yang berbeda. Ketika sebagian (besar) yang lain itu menyenyakkan tidurnya agar pulih kekuatannya esok ketika matahari muncul, orang-orang ini malah bertengger dalam rumah-rumah sederhana yang mengepul di depannya segelas kopi kental pahit dan sebatang rokok. Mereka berbicara tanpa arah, ngalor-ngidul memproduksi kata-kata yang enak untuk dibicarakan. Mencari peristiwa-peristiwa yang cocok untuk ditertawakan, mencari sabda-sabda yang asyik untuk digunjingkan.

Semakin lama, omongan itu bukan bertambah habis. Meski malam telah menuju puncak dan menggelincir terus ke tempat matahari terbit, obrolan itu tidak pernah bisa terputus. Selalu ada permasalahan yang mengelitik, Terus ada kondisi yang perlu dikritik. Mulai tingkat keluarga salah satu teman yang protektif, keadaan desa yang kepala desanya terlalu atraktif, perkara mahasiswa dengan pihak rektorat, sampai permasalahan bangsa yang tidak akan pernah bisa dipecahkan. Mereka menemukan kenikmatan dalam setiap diskusi yang diangkat. Pemainan dan perpolitikan kata-kata menjadi semakin panas dalam udara malam yang selalu berbanding terbalik dengan keinginan mereka.

Fakta pertama

Seorang guru SMA di sebuah sekolah swasta yang begitu terkenal dengan kelihaiannya dan keahliannya disegala bidang keilmuan. Dia sangat dinanti sekaligus sangat dibenci, dengan segala kelebihannya. Rambutnya gondrong, dari bisik-bisik diketahui kalau rambutnya tidak bisa dipotong oleh orang biasa, hanya bisa dipotong oleh guru atau ibunda beliau. Sangat memukau, dan sekaligus menggelikan, bagaimana seorang guru yang dikagumi memberikan tauladan untuk berambut gondrong.

Ia duduk dimeja guru ketika mengajar sambil mengangkat kakinya layaknya diwarung kopi. Ia menyandang gitar, memetiknya dan mulai menembangkan lagu-lagu menelusup di kulit ari. Dengan itulah ia mengajarkan ilmu tentang kehidupan, sekaligus ilmu pengetahuan. Tantu saja tidak jauh dari tema kita, ia menghabiskan berbatang-batang rokoknya untuk satu jam pelajaran (120 menit). Hm…unik, menarik, fantastic, dan tidak untuk ditiru tentunya.

Fakta kedua

Seorang dosen yang berdandan dengan gaya 70-an memasuki kelas dengan santai. Mahasiswa selalu tidak siap dengan permasalahan yang akan diungkapkannya, permasalahan kebangsaan yang seharusnya menggelayut manja diujung pemikiran mereka, namun selalu hilang di otak lali jiwo .

Dosen itu begitu cekatan mencetak paradigm-paradigma baru meski begitu sulit menuliskan secara maksimal apa yang diharapkannya dipapan tulis. Semua pengajarannya kemudian berpindah ke buku catatan mahasiswa dengan cemerlang. Tapi tentulah beliau mengetahui kalau apa yang dicatat mahasiswa pasti berbeda, baik sedikit, banyak, atau bahkan berubah, dengan apa yang diterangkannya. Sehingga beliau hanya memberikan sedikit apa yang telah diketahuinya tentang dunia ini. Padahal selaksa pengetahuan ingin dituangkannya, tapi apalah daya, mahasiswa Unijoyo sebegitunya.

Sambil menunggu mahasiswa untuk mencerna ilmu yang telah disampaikannya, ia akan keluar ruangan dan mengeluarkan sebatang rokok. Menyulutnya, dan menghisapnya dalam-dalam, seperti menghayati lantunan ayat suci. Begitulah hingga habis rokok itu beliau baru masuk kelas dengan pengetahuan baru, dan menyampaikannya lagi kepada mahasiswa dengan menggebu. Ia tidak mempedulikan lagi apakah mahasiswa itu mampu menampung atau tidak. Ia terlalu bersemangat.

Fakta ketiga

Laptop menyala kencang memancarkan sebuah pemikiran yang dalam. Seseorang dengan segala kesahajaannya menyedod sebatang rokok dengan seksama. Ada sekita tujuh detik ketika ia menyedot dan kemudian mengeluarkan asap yang kemudian masuk ke hidungnya. Ia seperti mengumpulkan energy magnetis dari alam semesta kemudian merangkainya menjadi kata-kata untuk mewakili kegelisahan yang menyergap hatinya. Kemudian ia tersenyum, dan terus saja kalimat-kalimat berbaris membentuk paragraph yang pada akhirnya sebuah pemikiran cemerlang tercetak.

Ia menyedod rokoknya lagi dengan kenikmatan seorng pecandu, dan begitu selanjutnya, energy alam terkumpul untuk ia tuangkan dalam tulisan-tulisannya yang jenius idealis. Luar biasa.

Fakta keempat

Di dunia belahan manapun tidak akan pernah terlepas dari pekerja-pekerja seni yang memperjuangkan hak-hak rakyat kecil melalui karya-karya seni dan tulisan sastranya.
Begitulah yang terjadi, ketika sebuah naskah sebuah tercipta dari fakta ketiga, maka barulah mereka beraksi, berproses untuk menciptakan aksi teatrikal yang memukau. Siapapun, bahkan yang tidak mengenal dunia ini akan terpaku ketika melihat aksi mereka, kecuali mereka yang sombong yang tidak hendak menghargai sebuah karya.

Disela latihan itu, kemudian dimereka saling bertukar jimat batangan yang menghembuskan asap putih memekakkan mata. Sama nikmatnya dengan secangkir kopi yang mereka hisap pelan-pelan. Menghitamkan malam, dan akhirnya aksi panggung mereka begitu hidup.

Fakta kelima

Segerombol anak-anak nagkring di warkop dengan canda tawa yang menngguncang sekelilingnya. Semua orang yang normal melihat ke arahnya dengan sebelah mata, mereka berkata “lha kok ada orang yang menyia-nyiakan hidupnya seperti mereka itu. Dasar tidak bisa berterimakasih pada orang tua yang membiayai, kerjaan sepanjang hari ngopi ngrokok”.

Keesokan malamnya mereka datang lagi dan membawa permasalahan baru, bercanda tawa sampai subuh kemudian pulang dan tidur. Jam 12 siang mereka bangun dan berlagak pilon “Lho kita terlambat kuliah. Ah gara-gara ketiduran, gak sengaja, sudah terlanjur, tidur lagi aja”

Dan ada fakta tersembunyi yang mesti juga di ungkapkan. Semua perokok mengatakan bahwa dengan merokok dia bagaikan mendapatkan inspirasi yang besar sehingga bisa menulis. Entah siapa yang tidak merokok aku tidak bisa memberikan contoh, tapi khairil anwar juga merokok. Taufik ismail merokokkah? Sutardji Chalzum Bachri merokokkah? Bahkan kiyai dan ustadzku sendiri merokok.

Diperlukan fakta-fakta selanjutnya yang sangat kompleks sehingga bisa disimpulkan bahwa rokok mempunyai berbagai implikasi. Berdasarkan bisik-bisik sebagian teman, ketika seseorang terlihat menonjol dan menarik perhatian karena kecerdasan ataupun ketampanan dan kemudian dilain kesempatan diketahui bahwa dia itu perokok, mereka langsung berucap “Ah…dia perokok”. Sepertinya mereka dibuat kecewa karena seseoang yang menarik tiba-tiba merokok.

Kembali ditinjau dari segi kreatifitas, tentunya sangat tidak masuk akal, sesuatu yang sangat merusak seperti rokok itu kemudian di buat alasan sebagai pemicu semangat untuk berkarya. Hitung saja berapa banyak perokok yang bejat, hitung saja berapa banyak creator yang tidak merokok.

Memang, seniman (dan sebagian penulis) sangat lazim dengan rokok. Namun apakah kita akan menafikan bahwa ada profesi lain yang perlu dipertimbangkan untuk menyimpulkan bahwa rokok bisa meningkatkan daya imagine dan creativity? Seperti dosen, guru, dokter, direktur, bos, qori’, dan masih banyak pekerjaan keren yang tidak bisa di ukur dengan rokok.

Dan kemudian, jika seniman (teater, pemahat, perupa), penulis (lepas, puisi, naskah dll) dijadikan tolak ukur bahwa mereka merokok sehingga bisa menghasilkan karya yang tak lekang dimakan waktu, apakah itu mamsuk akal?

Apakah tukang becak, kuli, pengangguran, pengamen, maling, yang notabenenya mereka itu merokok, apakah mereka kreatif?

Saya kira tidak.

Dan saya bersumpah, ketika menulis ini saya tidak merokok sama sekali.


0 Respons:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...