Sunday, December 4, 2011

Jurusan Kuliah dengan Prospek Gaji Besar

Bagi temen-temen yang ingin melanjutkan kuliah, mungkin informasi ini bisa memberikan acuan dasar. Semoga bermafaat.


AMERIKA SERIKAT – Kuliah memiliki banyak tujuan. Ada yang ingin mencari ilmu setinggi mungkin, agar punya gelar, atau untuk menaikkan posisi tawar saat mencari kerja. Namun tahukah kamu bahwa tidak semua jurusan yang ada di bangku kuliah membuat ‘nilai’ pencari kerja meningkat?
Bahwa tidak semua jurusan mampu ‘membayar’ kembali saat lulus, seperti daftar yang dibuat olehPayScale. Situs ini memaparkan jurusan yang lulusannya digaji dengan nilai paling tinggi di Amerika Serikat.

Uniknya, jurusan kedokteran tidak masuk dalam daftar 13 besar. Begitu juga dengan ilmu sosial, tidak ada yang masuk dalam daftar ini. Lantas, jurusan apa saja yang paling menghasilkan gaji tinggi? Berikut pemaparannya.

1. Jurusan Teknik Perminyakan
Lulusan jurusan ini yang memiliki pengalaman kerja dua tahun (atau disebut PayScale sebagai pemula), rata-rata dibayar USD97.900 atau setara dengan Rp828,9 juta per tahun. Sementara yang sudah pengalaman selama 15 tahun (mid-career), dibayar USD155 ribu atau setara dengan Rp1,3 miliar per tahun.

2. Jurusan Teknik Kimia
Tingkat pemula jurusan ini rata-rata dibayar USD64.500 atau setara dengan Rp546 juta per tahun. Sementara mid-carrer rata-rata dibayar USD109 ribu atau setara dengan Rp922,9 juta per tahun.

3. Teknik Listrik
Lulusan teknik listrik yang pemula rata-rata dibayar USD61.300 atau setara dengan Rp519 juta per tahun. Sementara yang mid-career dibayar USD103 ribu atau setara dengan Rp872,1 juta per tahun.

4. Material Science
Lulusan jurusan ini dibayar rata-rata USD60.400 atau setara dengan Rp511,4 juta per tahun (untuk pemula) dan USD103 ribu (Rp872 juta) per tahun untuk tingkat mid-career.

5. Teknik Penerbangan 
Lulusan jurusan ini dibayar rata-rata USD60.700 atau setara dengan Rp513,9 juta per tahun (untuk pemula) dan USD102 ribu atau setara dengan Rp863,6 juta per tahun (untuk mid-career).

6. Teknik Komputer
Untuk lulusan pemula, rata-rata dibayar USD61.800 atau setara dengan Rp523,3 juta per tahun. Sementara yang mid-career dibayar USD101 ribu atau setara dengan Rp855,2 juta per tahun.

7. Ilmu Fisika
Lulusan jurusan ini yang pemula rata-rata dibayar USD49.800 (Rp421,6 juta) per tahun sementara untuk yang mid-career dibayar USD101 ribu (Rp855,2 juta) per tahun.

8. Matematika Terapan
Lulusan jurusan ini rata-rata dibayar USD52.600 (Rp445,4 juta) per tahun untuk pemula. Sementara untuk mid-career rata-rata dibayar USD98.600 (Rp834,8 juta) per tahun.

9. Ilmu Komputer
Untuk pemula lulusan jurusan ini, rata-rata dibayar USD56.600 (Rp479,3 juta) per tahun. Sementara yang mid-career rata-rata dibayar USD97.900 (Rp829 juta) per tahun.

10. Teknik Nuklir
Lulusan pemula rata-rata dibayar USD65.100 (Rp551,2 juta) per tahun. Sementara untuk yang mid-career rata-rata dibayar USD97.800 (Rp828,1 juta) per tahun.

11. Teknik Biomedical
Lulusan jurusan ini yang pemula rata-rata dibayar USD53.800 (Rp455,5 juta) per tahun. Sementara mid-career rata-rata dibayar USD97.800 (Rp828 juta).

12. Ekonomi
Untuk pemula, rata-rata dibayar USD47.300 (Rp400 juta lebih) sementara yang mid-career dibayar USD94.700 (Rp801 juta lebih) per tahun.

13. Teknik Mesin
Lulusan pemula jurusan ini rata-rata dibayar USD58.400 (Rp494 juta lebih) per tahun sementara yang mid-career dibayar USD94.500 (Rp800 juta lebih) per tahun.
(rhs)

Saturday, November 26, 2011

Tung Desem Waringin, Sang Motivator


Tahun Depan Lahirkan Dua Juta Orang Kaya Baru
Lebih enam tahun menggeluti profesi sebagai motivator, hingga bulan lalu Tung Desem Waringin sudah melatih 900.127 orang dari berbagai kota di Indonesia. Apa kunci sukses pria kelahiran Solo yang mengawali karir sebagai karyawan BCA itu?

RIDLWAN HABIB, Jakarta

RUMAH elite di kawasan Boulevard Palem Raya, Lippo Karawaci, itu tampak asri. Dua tukang kebun sedang menyirami rumput dan pohon jambu di pojok halaman yang luasnya cukup untuk parkir delapan mobil. Di garasi yang terletak di sudut kiri dari bangunan berlantai dua itu tampak dua sedan Mercedes Benz E Class. Satu berwarna hitam, satu lagi berwarna perak metalik.

Saat Jawa Pos datang ke sana Selasa (10/7) lalu, Tung Desem Waringin, si empunya rumah, sedang tidak ada di kediaman. Yang menyambut adalah Tung Tiago Masimo, putra ketiganya, yang sedang asyik bermain bola. Bocah yang belum genap dua tahun itu ditemani seorang pembantu.

"Silakan masuk, Mas. Bapak tadi pesan agar menunggu sebentar. Mobil beliau masih terjebak macet," ujar seorang pembantu sambil menekan remote control sehingga pagar elektronik itu membuka secara otomatis. Jika arus lalu lintas di tol lancar, kompleks Lippo Karawaci itu bisa ditempuh satu jam perjalanan dengan mengendarai mobil dari ibu kota.

Setelah menunggu sekitar setengah jam di ruang tunggu dekat garasi mobil, datang Toyota Alphard warna perak bernomor B 58 DW. Seorang pria tinggi kurus turun dengan sedikit melompat. Sambil tersenyum lebar, Tung menjabat tangan Jawa Pos dengan erat. "Maaf ya, agak lama. Ayo, ayo masuk," ujarnya.

Masuk ruang tamu, Tung langsung diserbu dua buah hatinya yang lain, Tung Waldo Kamajaya, 7, dan Tung Alta Kania, 4. Mereka melakukan tos tangan layaknya pemain basket. Tahu kalau ada wartawan, Waldo lantas minta difoto. "Maaf ya, kalau agak mengganggu. Mereka ini prime customer (pelanggan utama), jadi harus didahulukan," ujar Tung lantas tertawa.

Sibuk mengisi acara pelatihan dan seminar di berbagai kota hingga 52 kali dalam sebulan membuat waktu Tung untuk anak-anaknya begitu istimewa. "Salah satu indikator kesuksesan adalah keluarga yang harmonis dan bahagia," katanya. Karena itu, suami Suryani Untoro tersebut selalu menyisihkan delapan hari dalam sebulan untuk anak-anaknya. "Juga sebulan full dalam setahun untuk berlibur ke luar negeri," tambah pria 40 tahun itu.

Tung lantas mengajak Jawa Pos pindah ke ruang kerjanya di lantai dua. Lemarinya penuh dengan buku-buku bertema motivasi, ekonomi, dan perbankan. "Ini buku yang pertama mengubah hidup saya," ujarnya sambil menunjukkan koleksi buku karangan Anthony Robbins, motivator terkenal asal Amerika Serikat.

Sebelum menjadi seorang trainer, Tung berkarir di Bank Central Asia (BCA) pada 1992. Setelah lulus pelatihan di bank papan atas tersebut, alumnus Fakultas Hukum Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta itu dikirim ke BCA cabang Surabaya. Dia mendapat tugas membenahi 22 cabang pembantu (capem) yang hasil audit operasionalnya terburuk se-Indonesia. Tung hanya butuh waktu empat bulan untuk membereskannya.

"Hasilnya, Surabaya memperoleh hasil audit terbaik di seluruh Indonesia. Dari nomor 20 jadi nomor satu," katanya. Setelah sukses itu, pimpinannya menugasi Tung membenahi cabang Kupang dan Malang. 

Berkat kepiawaiannya, pertumbuhan kartu ATM BCA di kota Malang tercatat paling besar se-Indonesia. Jumlah kartu beredar mencapai 204.000 buah. Selain itu, tingkat mati mesin ATM-nya terendah se-Indonesia. 

Saat menjadi pemimpin BCA kantor cabang utama Malang, pada 1998 bank yang saat itu sebagian besar sahamnya dimiliki Grup Salim tersebut diambil alih pemerintah. Dan, saat semua cabang kehabisan uang, cabang Malang justru kebanyakan uang. Deposito malah terus membanjir.

Keberhasilan demi keberhasilan di BCA yang diraih Tung membuat 12 perusahaan antre mengincarnya. Dia tak terlalu tertarik. Namun, ketika pada 2000 ayahnya sakit karena virus Methicillin Resistant Staphilococcus Aereus (MRSA), Tung baru sadar. Ternyata, hasil jerih payahnya, bahkan seluruh tabungannya, tidak cukup untuk membayar perawatan sang ayah di kamar kelas tiga RS Mount Elizabeth, Singapura. "Saya menangis sepanjang hari. Saya sadar ada yang salah dengan hidup saya," kata Tung.

Di ruang tunggu rumah sakit, Tung tak sengaja membaca pamflet promosi pelatihan Anthony Robbins di Negeri Singa. Nuraninya berkata harus ikut. "Tapi, saya tak punya uang," katanya. Saking kepinginnya ikut pelatihan, dia nekat meminjam USD 5.000 (sekitar Rp 45 juta) kepada temannya, Leo Chandra, pemilik Columbia Furniture. "Setelah ikut, saya putuskan mundur dari BCA pada Mei 2000," katanya mengenang keputusan besarnya saat dia berusia 33 tahun itu.

Ibu Tung sekarang sudah menjanda. Tapi, ayahnya meninggal bukan karena virus itu. "Ayah saya sempat sembuh dari Singapura. Seluruh saudara patungan untuk membayar biaya rumah sakit. Dari Ayah, saya belajar tentang kemauan yang begitu kuat untuk sehat, melawan rasa sakit dari dalam diri sendiri," ujar Tung yang saat menerima Jawa Pos petang itu didampingi asisten pribadinya, Diki M. Sidik.

Pada Februari 2001, Tung mulai mengkhususkan diri menjadi motivator dan pembicara publik. Dia berhasil "membarter" utangnya kepada Leo Chandra dengan melatih seluruh karyawan Columbia Furniture. Hasilnya, omzet perusahaan itu meningkat 430 persen. 

Sukses di Columbia membuat namanya mulai dikenal. Lalu, satu demi satu klien berdatangan. Mulai perusahaan otomotif, perbankan, properti, sampai BUMN. Lagi-lagi dia berhasil menaikkan kinerja perusahaan yang ikut pelatihannya. Misalnya, penjualan helm DNI naik 800 helm dalam sehari, sales sampo Selsun naik 200 persen sebulan. 

"Termasuk kantor Astra di Cilacap. Ketika penjualan otomotif di seluruh Indonesia turun, kantor itu justru naik 190 persen," ujar Tung sembari menunjukkan testimoni kliennya yang dikirim melalui email dan SMS. 

Tung juga menjadi aktor di balik layar program BRItama Untung Beliung yang memperkenalkan iklan di media cetak dan elektronik dengan gaya yang tak konvensional itu.

"Presdir Bentoel, Pak Daryoto Setiawan, telepon saya. Katanya, penjualan Bentoel Prima naik 59 persen setelah saya mengisi seminar bulan lalu. Saya surprised sekali," ujar Tung yang memilih tidak merokok itu.

Karena jadwalnya yang begitu padat, Tung sering menyiasati medan ibu kota yang macet dengan menggunakan helikopter. Dia terbang dari landasan heli (helipad) Lippo yang terletak lima menit dari kediamannya. "Saya time share dengan Lippo. Tapi, saking seringnya saya pakai, heli itu seperti milik pribadi," ujarnya. 

Tung juga menggunakan heli untuk berlibur di beberapa resor pribadinya. Misalnya, di Tanjung Lesung (lereng Gunung Krakatau) atau di Belitung. "Saya sangat bersyukur dengan perubahan hidup ini, sehingga (saya) bisa membelikan ibu mobil Previa, kado ulang tahun istri mobil SLK 200K, serta ajak anak-anak ke mana saja mereka mau," ujarnya. 

Kehidupan ekonomi motivator yang menetapkan tarif USD 4.500 (sekitar Rp 40 juta) per tiga jam itu memang berubah drastis. Padahal, pada awal karirnya sebagai trainer, ke mana-mana Tung memakai mobil Panther Miyabi keluaran 1996.

Apa rahasia suksesnya? Salah satunya, kata Tung, menunda kesenangan. "Mental orang miskin itu ingin senang di depan. Belum apa-apa sudah kredit rumah, kredit mobil, mencicil ini, mencicil itu. Akhirnya hidupnya mencicil terus," ujarnya dengan ekspresi membelalakkan mata.

Menurut sahabat penulis buku pengembangan diri Robert T. Kiyosaki ini, orang-orang kaya bersedia prihatin sampai benar-benar bebas secara finansial. "Saya membeli semuanya hanya dari bagi hasil keuntungan berinvestasi," ujarnya. 

Selain menjadi pembicara, Tung memang pebisnis ulung. Dalam sebulan terakhir, dia baru saja membuka tiga perusahaan baru. "Satu bikin tabung gas, yang kedua di bidang trading batik tulis dengan teknologi tiga menit jadi. Selain itu, perusahaan software Innertalk," katanya.

Tung saat ini juga menginvestasikan kekayaannya di luar negeri. Salah satunya membuka resor baru di La Paz, sebuah kota di Meksiko yang dekat dengan Negara Bagian California, Amerika Serikat. "Luasnya 500 hektare. Saya berbagi saham dengan Michael Hammer, sutradara film Shakespeare in Love," katanya.

Tung juga punya pabrik motor Torindo, pengembang 1.000 rumah TNI Angkatan Udara di Mekarsari, Bogor, dan mendirikan BPR di Tangerang.

Selain menunda kesenangan, kata Tung, orang kaya selalu berpikir positif. "Beda dengan orang miskin yang di otak selalu negatif. Lihat orang pindah rumah baru, bilang pasti hasil korupsi, beli mobil bagus, bilang pasti hasil berjudi. Selamanya orang seperti itu tak bakal sukses," katanya. 

Sikap mental itu bisa dibiasakan dengan menggunakan kata-kata bermakna baik dalam setiap pembicaraan dengan orang lain. "Setiap bangun tidur, keluarga saya membiasakan langsung tersenyum lebar sambil bilang terima kasih Tuhan," ujarnya.

Tung yang baru saja dinobatkan menjadi pembicara favorit dalam seminar The World Greatest Guru di Malaysia dan Singapura 21-25 Mei lalu itu optimistis setiap orang Indonesia bisa kaya dan bahagia. "Saya menargetkan tahun depan sudah dua juta orang yang berubah hidupnya dari seminar saya, siaran radio saya, atau buku saya," katanya. 

Buku Financial Revolution karya Tung sudah cetak ulang lima kali. Pada hari pertama penjualan buku itu terjual 10.517 secara eceran. "Itu masuk rekor Muri," ujarnya.

Saat Jawa Pos pamit pulang, Tung mengantarnya menuju shelter bus eksekutif jurusan Lippo Karawaci-Jakarta. Dia menyopiri sendiri mobil Alphard yang dilengkapi dengan GPS (geo positioning system) itu. "Kalau Anda ingin lebih kaya, tak perlu keluar dari profesi sekarang. Kuncinya miliki nilai tambah," ujarnya sambil terus menyetir. 

Menurut dia, dalam bisnis koran kalau berita hanya sama dengan media lain, berarti tidak ada pertambahan nilai. "Harus lebih akurat, lebih kreatif, fotonya tajam, lay-out-nya cantik, maka orang akan berbondong-bondong membeli," katanya.

Setelah punya nilai tambah, hasilnya dikomunikasikan kepada orang secara tepat. "Korannya bagus, tapi tim pemasaran tidak jalan, tidak ada iklan, sama saja," katanya. (*)

Sunday, October 9, 2011

ETIKA KOMUNIKASI
ETIKA KOMUNIKASI ORGANISASI

1.      Definisi Etika dan Organisasi
Biasanya bila kita mengalami kesulitan untuk memahami arti sebuah kata maka kita akan mencari arti kata tersebut dalam kamus. Tetapi ternyata tidak semua kamus mencantumkan arti dari sebuah kata secara lengkap. Hal tersebut dapat kita lihat dari perbandingan yang dilakukan oleh K. Bertens terhadap arti kata ‘etika’ yang terdapat dalam Kamus Bahasa Indonesia yang lama dengan Kamus Bahasa Indonesia yang baru. Dalam Kamus Bahasa Indonesia yang lama (Poerwadarminta, sejak 1953 – mengutip dari Bertens, 2000), etika mempunyai arti sebagai : “ilmu pengetahuan tentang asas-asas akhlak (moral)”. Sedangkan kata ‘etika’ dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yang baru (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1988 – mengutip dari Bertens 2000), mempunyai arti : [1]
a. Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak);
b.  Kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak;
c.  Nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat.
Sedang organisasi pengertiannya menurut beberapa sumber adalah sebagai berikut :[2]
1. Organisasi adalah susunan dan aturan dari berbagai-bagai bagian (orang dsb) sehingga merupakan kesatuan yang teratur
2.  Organisasi adalah sistem sosial yang memiliki identitas kolektif yang tegas, daftar anggota yang terperinci, program kegiatan yang jelas, dan prosedur pergantian anggota.
3.    Menurut Stoner, organisasi adalah suatu pola hubungan-hubungan yang melalui mana orang-orang di bawah pengarahan manajer mengejar tujuan bersama.
4.   Menurut James D. Mooney, organisasi adalah bentuk setiap perserikatan manusia untuk mencapai tujuan bersama.
5.    Menurut Chester I. Bernard, organisasi merupakan suatu sistem aktivitas kerja sama yang dilakukan oleh dua orang atau lebih
6.    Organisasi (Yunani: ργανον, organon - alat) adalah suatu kelompok orang yang memiliki tujuan yang sama.
7.   Organisasi adalah bentuk formal dari sekelompok manusia dengan tujuan individualnya masing-masing (gaji, kepuasan kerja, dll) yang bekerjasama dalam suatu proses tertentu untuk mencapai tujuan bersama (tujuan organisasi). Agar tujuan organisasi dan tujuan individu dapat tercapai secara selaras dan harmonis maka diperlukan kerjasama dan usaha yang sungguh-sungguh dari kedua belah pihak (pengurus organisasi dan anggota organisasi) untuk bersama-sama berusaha saling memenuhi kewajiban masing-masing secara bertanggung jawab, sehingga pada saat masing-masing mendapatkan haknya dapat memenuhi rasa keadilan baik bagi anggota organisasi/pegawai maupun bagi pengurus organisasi/pejabat yang berwenang.
Dari beberapa pengertian tersebut diatas, dapat disimpulkan bahwa organisasi adalah kumpulan dari dua atau lebih individu yang memiliki tujuan tertentu. Tujuan ini kemudian di sebut visi organisasi yang akan dilaksanakan berdasarkan misi dan tujuan dari organisasi tersebut.
2.      Sebuah Pandangan
Hidup di dunia, manusia tidak bisa bertindak semena-mena. Manusia hidup tidak sendirian namun bersama-sama dengan manusia lain membangun sebuah komunitas sosial yang masing-masing memunculkan adat dan budaya yang sesuai dengan kesepakatan/konsensus internal komunitas. Maka masalah etika kemudian menjadi penting disini untuk membangun sebuah jaringan sosial yang sehat; aman, damai, dan penuh pengertian. Permasalahan etika memang selalu muncul ketika orang satu berhubungan dengan orang lain. Apakah yang dimaksud dengan etika ? Sekelompok teoritis[3] mengemukan bahwa etika berkaitan dengan pemikiran dan cara bersikap, pemikiran mengenai etika terdiri dari evaluasi masalah dan keputusan dalam arti bagaimana kedua hal ini memberi andil pada kemungkinan penigkatan seseorang seraya menghindari akibat yang merugikan orang lain dan diri sendiri. Perilaku etis berhubungan dengan tindakan yang sesuai dengan keputusan yang relevan, yang sejalan dengan seperangkat pedoman yang menyangkut perolehan yang mungkin dan akibat yang merugikan orang lain.
Masalah etika dalam organisasi dapat dibagi dalam dua kategori :
·         Yang menyangkut praktik – praktik organisasi di tempat kerja
·         Yang menyangkut keputusan perorangan
·         Yang menyangkut hubungan masyarakat dan dunia luar organisasi
Organisasi yang telah berkembang mungkin menciptakan sebuah kebudayaan tersendiri sehingga mampu bertahan dalam segala situasi dan kondisi dimana organisasi tersebut hidup. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Wall Street Journal, 8 September 2087 terhadap 671 Manajer , hampir 25% menyatakan bahwa etika yang tinggi dapat menghalangi kesuksesan berkarir dan menyimpang dari aturan merupakan keharusan agar tetap bertahan di dunia. fantastic jika kemudian seluruh dunia akan menjalankan kehidupan berorganisasi tanpa etika. Kemudian apakah yang akan terjadi antara satu organ dengan organisasi yang lain jika seperti ini?
Hal yang lain dinyatakan Walt Hurrington yang bekerja di Washington Pos, bahwa “kini orang-orang sekarang lebih pendusta, penipu, pencuri, bukan karena mereka tidak mengetahui yang mana benar dan yang mana yang salah. Namun karena di negara Amerika yang besar dan birokratis, sulit mengerjakan sesuatu yang benar dengan lebih mudah, dan lebih mudah mengerjakan sesuatu yang salah. Ketika orang merasa ditipu oleh pemimpin dan institusi, mereka akan lebih mudah untuk berbalik menipu”.
Etika berkaitan dengan perilaku moral dan berfungsi sebagai kontrol pelaksanaan suatu aktivitas. Jika tidak ada kontrol dalam sebuah ektivitas tentu akan berpengaruh buruk terhadap tujuan dan harapan dari aktfitas tersebut. Dalam organisasipun haruslah beretika,karena etika organisasi merupakan norma-norma yang mengatur perilaku dalam berinteraksi dengan pihak lain. Etika organisasi ini bisa meliputi etika sosial, profesi, dan individu. Etika sosial merupakan nilai-nilai moral dan norma-norma yang dikodifikasi dalam organisasi untuk dipatuhi para anggotanya. Etika profesi adalah nilai-nilai moral dan norma-norma yang dikodifikasi oleh suatu profesi untuk dipatuhi dalam pelaksanaan tugas-tugas profesionalnya. Etika individu merupakan nilai-nilai moral yang dianut individu sebagai cara berinteraksi dengan pihak lain. Jadi ketika dalam berorganisasi kita tidak memperhatika etika yang berlaku, maka kita akan menodai sosial, profesi, dan diri kita sendiri.
Tanggung jawab etis tidak bisa di lekatkan pada orang tertentu. Ini harus menjadi tanggung jawab bersama dan diwakili oleh individu masing-masing. Jika individu dalam sebuah organisasi memeperhatikan etika-etika yang ditetapkan oleh dirinya, sosial, ataupun profesianya (kode etik profesi) maka dengan sendirinya organisasi tersebut akan beretika. Jadi disini sulit untuk menemukan siapa yang bertanggung jawab terhadap etika suatu organisasi. Karena majaerpun tidak bisa mendikte secara khusus kepada bawahannya, semuanya, untuk melakukan tindakan tertentu dengan cara tertentu. “sukar menemukan seseorang yang secara sendirian membuat kebijakan atau bahkan seseorang yang kontribusinya cukup berarti untuk memperoleh penghargaanatau dipersalahkan” ungkap Dennis Thompson dalam bukunya political ethics and Public Office yang dikutip dalam bukunya

3.      Kerangka Untuk Menganalisa Etika Organisasi
Tentu tidak bisa digampangkan dalam menganalisa etika organisasi. Diperlukan sebuah kerangka berfikir yang sistematis agar kita bisa mengidentifikasi sebuah organisasi dikatakan beretika. Dalam hal ini, beberapa faktor berikut bisa dijadikan acuan.
a.       Faktor-faktor organisasi,
1.      Seperti kebijakan, kaidah, prosedur mengenai etika
2.      Sistem yang memudahkan atau merintangi implementasi kebijakan dan kaidah-kaidah.
3.      Budaya organisasi tentang nilai, kepercayaan, dan kepekaan yang dapat meningkatkan atau menurunkan perilaku etis.
4.      Cara kita melakukan pekerjaan disini.
b.      Faktor-faktor individual
c.       Latar belakang pribadi

4.      Standar Etika Komunikasi Organisasi
a.       Kehati-hatian. Komunikator dalam organisasi seharusnya menggunakan kemampuan persuasifnya sendiri untuk menilai secara menyeluruh pesan-pesan yang jelas dan tersembunyi dari organisasi tersebut dan harus menghindari penerimaan dan pandangan konvensional secara otomatis dan tanpa berfikir.
b.      Komunikator dalam organisasi harus terbuka terhadap  kemungkinan di ubahnya pesan dari orang lain –dari orang yang di bujuk. Keyakinan yang kita pegang secara dogmatis atau pandangan berfokus sempit yang membutakan kita terhadap informasi yang berguna, pandangan yang berbeda tentang suatu masalah, atau penyelesaian alternatif perlu di seimbangkan atau dikurangi.
c.       penipuan, baik terang-terangan ataupun tidak terhadap orang lain berdasarkan etika tidak diinginkan sama sekali.
d.      Empati. Komunikator empatis benar-benar mendengarkan argumen, opini, nilai, dan asumsi orang lain, terbuka terhadap perbedaan pendapat, mengesampingkan cetusan stereotip, dan menghargai hak semua orang sebagai person untuk memegang pandangan yang berbeda.
Gerry Kreps menganjurkan apa yang disebut “tiga prinsip penutup banyak hal” yang ia anggap berguna mengevaluasi etika relatif komunikasi organisasi internal dan eksternal. Yaitu :
a.       Anggota organisasi tidak boleh dengan sengaja menipu satu sama lain
b.      Komunikasi anggota organisasi tidak boleh dengan sengaja menyakiti anggota organisasi lain atau anggota lingkungan organisasi yang relevan.
c.       Anggota organisasi harus diperlakukan secara adil.

5.      Etika dan Konsekuensinya
Organisasi, dapat disederhanakan sebagai suatu aktivitas yang bertujuan menghasilkan laba, baik laba yang berupa materi (profit), atau laba berupa nama baik, kepuasan batin dll (non profit). Sehingga sah-sah saja jika para pelaku organisasi berusaha memperoleh keuntungan dari setiap aktivitas yang dilakukannya. Adalah menjadi tidak wajar ketika setiap pelaku bisnis menginginkan keuntungan dengan menghalalkan segala cara guna memperoleh laba semaksimal mungkin. Praktik yang tidak sehat seperti ini akan memberikan dampak negatif, karena tidak akan menumbuhkembangkan profesionalisme bisnis dan etos kerja yang tinggi, melainkan justru akan menggerogoti ketahanan organisasi dari dalam, sehingga menjadikan pilar-pilar kemandirian organisasi semakin rapuh. 
Jika praktek berorganisasi yang tidah sehat sudah berlaku umum dalam suatu negara maka akan memberikan citra negatif pada bangsanya. Organisasi tidak bisa dipandang sempit, perusahaan, badan usaha, lembaga kepemerintahan, LSM dan lembaga kependidikanpun termasuk sebuah organisasi. Dampak negatif yang berskala besar seperti praktik-praktik KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme) yang pernah merajalela di Indonesia –meskipun sampai sekarang masih belum bisa di hapus- dan dampaknya terbukti telah menggerogoti dan memporakporandakan negara kita. Saat ini, dalam hal KKN Indonesia termasuk dalam ranking terparah di dunia.
Setiap organisasi yang tidak menjalankan etika berorganisasi dengan baik tentu tidak akan diajak berpartner dalam segala hal.

6.      Praktik – praktik Organisasi
a.      Rasa hormat, martabat, dan kebebasan perorangan. Masalah ini berhubungan dengan cara organisasi memperlakukan anggotanya. Dari sudut pandang sebagian besar anggota oraganisasi, kepentingan organisasi didahulukan dan kepentingan anggota dijadikan yang paling akhir.
b.     Kebijakan dan praktik personel. Masalah ini berkenaan dengan etika kepegawaian, pemberian gaji, kenaikan pangkat, pendisiplinan, pemberhinetian dan masalah pension anggota organisasi. Kewajiban umum organisasi adalah berlaku adil pada anggota organisasi yang prospektif disetiap jenjang karirnya.
c.     Keleluasaan (privacy) dan pengaruh terhadap keputusan pribadi. Perjanjian eksplisit dan implicit antara pegawai dengan organisasi yang memperkerjakan mereka, memberi peluang kepada organisasi untuk memperhatikan faktor – faktor yang secara jelas mempengaruhi prestasi kerja pegawai. Namun masalah etika muncul bila organisasi menaruh perhatian khusus pada masalah kehidupan pribadi anggotanya yang tidak secara langsung mempengaruhi prestasi kerja mereka dalam organisasi, misalnya segala sesuatu yang terjadi selama cuti yang mungkin mempengaruhi citra organisasi, keikutsertaan dalam masalah – masalah public seperti kegiatan masyarakat dan organisasi pelayanan, kontribusi pada badan – badan amal, dan keterlibatan dalam kelompok kegiatan politik.

7.      Faktor Penentu Keberhasilan Organisasi dalam Mewujudkan Etika Organisasi
Dalam segala hal ada faktor-faktor yang membuat sebuah usaha berhasil. Begitupun dalam membangun etika organisasi diperlukan faktor yang mendukung. Yaitu sebagai berikut :
1. Komitmen dari Top Manajemen Dalam Organisasi
Sebuah organisasi tidak bisa dilepaskan dari pimpinan manajemen yang menentukan keputusan disetiap sektor organisasi. Pihak top manajemen seharusnya bisa menunjukkan sikap yang baik sesuai dengan kebudayaan organ sehingga bisa dijadikan teladan bagi bawahan. Seperti kemauan yang kuat, optimisme, dan keberanian mengambil keputusan disaat-saat genting itu harus ditunjukkan oleh seorang pimpinan agar tidak menyurutkan semangat bawahan. Pimpinan tidak bisa menginginkan suatu etika dan perilaku yang tinggi dari suatu organisasi sementara pimpinan itu sendiri tidak sungguh-sungguh untuk mewujudkannya. Inilah yang harus diperhatikan.
Keterbukaanpun menjadi hal yang harus diperhatikan oleh pihak top manajemen, karena hal itu bisa sangat sensitif dalam memancing bawahan untuk konstruktif atau distorsif dalam bekerja. Bila pihak manajeman terbuka dalam segala hal terhadap bawahannya, loyalitas akan diberikan oleh bawahan karena merasa di hormati dengan adanya keterbukaan tersebut. Manajemen harus memperlihatkan kepada karyawan tentang adanya kesesuain antara kata dengan perbuatan dan tidak memberikan tolerensi terhadap perbuatan-perbuatan yang melanggar kaedah-kaedah etika organisasi yaitu dengan diberikan sanksi hukuman yang jelas dan demikian pula sebaliknya terhadap pegawai yang berprestasi dan bermoral baik diberikan penghargaan yang proporsional.
2. Membangun Lingkungan Organisasi Yang Kondusif
Lingkungan yang kondusif dalam organisasi tidak bisa diwujudkan dalam sekejap. Harus melewati tahap yang panjang yang membutuhkan etika yang tinggi. Ini tidak bisa dilimpahkan kepada pimpinan organisasi begitu saja. Ini menjadi tanggung jawab organisasi kecara keseluruhan dalam menjalankan etika yang jujur, transparan, dan bertanggung jawab. Seluruh elemen organisasi harus sadar bahwa lingkungan yang kondusif tidak menjadi tanggung jawab personal yang ada dalam organisasi, misalnya pimpinan, ketua bidang/divisi, ataupun anggota. Tapi juga tidak berarti bahwa pimpinan organisasi akan menyerahkan tanggung jawab menuju organisasi yang kondusif ini kepada seluruh anggota dan bawahannya tanpa keterlibatan pimpinan, karena bagaimanapun seorang pemimpin harus menjadi teladan bagi seluruh elemen yang ada. Sehingga seorang pemimpin memang harus memimpin seluruh elemen organisasi menjaga sikap etis agar tercipta lingkungan organisasi yang kondusif.
Selain itu, seharusnya ditetapkan pula peraturan-peraturan yang pada selanjutnya akan mendukung terciptanya lingkungan organisasi yang kondusif. Bagian pembuatan peraturan inipun harus menentukan sanksi-sanksi pelanggaran sehingga peraturan akan dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Pengawasan terhadap berjalannya peraturan ini harus dilakukan setiap saat dengan harapan perilaku etis yang sesuai dengan budaya organisasi ini bisa dijalankan dan ditegakkan.
3. Perekrutan dan Promosi
Satu lagi faktor yang bisa dijadikan penentu meng-etika-kan organisasi adalah dalam hal perekrutan dan promosi pegawai atau bawahan. Sebuah manajemen mempunyai sebuah standar tertentu dalam menentukan siapa yang berhak masuk ke dalam organisasinya, ketika perekrutan anggota inilah diadakan seleksi. Dan untuk membawa sebuah organisasi beretika, maka dimulai dari perekrutan ini manejemen seharusnya membuat standar tertentu mengenai etika bagi seseorang yang akan masuk ke organisasi. Setiap anggota atau bawahan memiliki masing-masing seperangkat nilai-nilai kejujuran, integritas dan kode etik personal sehingga ini bisa menjadi dasar bagi syarat etika perekrutan anggota organisasi.
Dalam mempromosikan anggotapun harus menentukan standar etika tertentu. Ketika kita menginginkan organisasi yang menjunjung tinggi etika, maka dalam mengangkat dan menentukan orang-orang tertentu yang akan menduduki jabatan tinggipun harus diatur dengan standar etika. Karena semakin tinggi jabatan, akan semakin menjadi tolak ukur organisasi, baik dari kualitas maupun dari etikanya. Hal yang menjadi teladanpun orang yang mempunyai jabatan tinggi, dapat dipastikan bahwa pemimpin/orang yang jabatannya lebih tinggi akan dijadikan contoh bagi anggotanya, memang tidak bisa dipungkiri bahwa kadangkala anggota bisa menjadi lebih baik dari pada pemimpinnya.
Orang yang patut untuk dipromosikan tentunya personal yang memiliki semangat, tekad tinggi, dan berkemauan keras terhadap kemajuan organisasi. Jujur, bertanggung jawab, transparan, dan dapat dipercaya tentunya sifat-sifat yang perlu dijadikan pertimbangan untuk mempromosikan seseorang. Semakin tinggi jabatan seseorang, maka kebutuhan untuk sifat amanah (dapat dipercaya) akan semakin besar.
4. Pelatihan Yang Berkesinambungan
Pegawai baru sebaiknya diberi pelatihan tentang nilai-nilai organisasi atau entitas dan standar-standar pelaksanaan pada saat perekrutan.  Pelatihan ini sebaiknya secara ekplisit dapat mengadopsi harapan-harapan dari seluruh pegawai menyangkut :
·         Kewajiban-kewajiban mengkomunikasikan masalah-masalah tertentu yang dijumpai.
·         Membuat daftar jenis-jenis masalah.
·         Informasi bagaimana mengkomunikasikan masalah-masalah tersebut. Dan juga sebaiknya ada kepastian dari Manajemen Senior mengenai harapan-harapan pegawai dan tanggung jawab komunikasi tersebut.
Komitmen untuk pendidikan yang berkelanjutan dan kesadaran bagi pegawai atas permasalahan yang berkaitan dengan etika dan anti korupsi. Program pendidikan harus disusun untuk kepentingan organisasi dan relevan dengan keinginan pegawai. Sebagai tambahan dalam memberikan pelatihan pada saat perekrutan, para pegawai sebaiknya memperoleh pelatihan secara periodik sesudahnya. Beberapa perusahaan dapat mempertimbangkan pelatihan berkelanjutan untuk posisi tertentu, seperti karayawan bagian pembelian atau pegawai yang terkait dengan tanggung jawab keuangan. Pelatihan sebaiknya dibuat spesifik bagi pegawai sesuai dengan dengan masing-masing tingkatan dalam organisasi, lokasi geografi, dan tanggung jawab-tanggungjawab penugasan. Sebagai contoh , pelatihan untuk manajer senior secara normal akan berbeda dari pegawai biasa, dan pelatihan untuk pegawai bagian pembelian akan berbeda dengan pegawai bagian penjualan , pegawai bagian internal audit dan lain sebagainya.
5. Menciptakan Saluran Komunikasi Yang Efektif
Untuk mewujudkan organisasi yang kondusif berdasarkan etika yang baik, maka tentunya dibutuhkan sistem komunikasi yang baik antara pegawai dengan pegawai, ataupun antara pegawai dengan atasan. Manajemen secara keseluruhan akan sangat membuthkan informasi mengenai pelaksanaan dan pertanggungjawaban pekerjaan apakah sudah susuai dengan kode etik atau tidak dari masing-masing pegawai. Masing-masing pegawai harus dapat menginformasikan tentang pelaksanaan kode etik tersebut mulai dari pemegang posisi tertinggi sampai yang terendah. Permintaan komfirmasi tersebut minimal dilakukan setahun sekali, hal ini bukan hanya formalitas saja tetapi laporan tersebut betul-betul dapat digunakan sebagai pencegahan dan pendekteksian bila terjadinya perbuatan curang dalam organisasi. Laporan yang jujur dari karyawan sangat dibutuhkan dan bukan atas dasar sakit hati atau irihati pada seseorang.
Demikian juga laporan internal auditor harus ditindaklanjuti oleh manajemen sesuai dengan aturan kode etik yang sudah disepakati. Pegawai harus diberi kesempatan untuk melaporkan perbuatan tidak baik yang dilakukan pegawai, manajer atau kliennya. Sistem ini harus harus menjamin dan menjaga kerahasiaan pegawai agar tidak diketahui namanya dan kelangsungan pekerjannya. Sistem juga hendaknya dapat meningkatkan rasa percaya diri pegawai terhadap sistem yang ada dan mereka merasa terlindung dari penuntutan. Sistem yang terbaik mungkin bisa menggunakan saluran khusus untuk pengaduan dengan menggunakan answering mechine Tak kalah pula pentingnya adanya sistem pelaporan yang dapat digunakan oleh pegawai untuk mendapatkan nasehat masalah dilema etika yang dialaminya setiap saat.
6. Penegakan kedisiplinan
Kedisiplinan merupakan suatu kunci penting keberhasilan dalam menerapkan dan memelihara kode etik dalam suatu organisasi. Tindakan disiplin akan dapat mengurangi perbuatan yang bisa mereduksi kegiatan dan program kerja organisasi. Tentu saja ini harus diawasi oleh pihak tertentu atau dalam hal ini ada komisi penegakan disiplin sehingga semua orang yang ada dalam organisasi tersebut bisa melaksanakan kegiatan yang diprogramkan oleh organisasi.

8.      Simpulan
Etika selalu berkaitan dengan orang lain. Jika manusia hidup sendiri tentu saja etika tidak perlu di bahas. Karena manusia adalah makhluk sosial maka etika menjadi hal penting yang harus di jalankan oleh setiap individu. Demikianlah yang terjadi dalam organisasi. Karena organisasi merupakan kumpulan dari beberapa orang yang bertujuan sama, maka didibutuhkan etika yang menjadi standar tertentu bagi seorang anggota organisasi. Ini bisa dikatakan bahwa antar individu dalam suatu organisasi tidak boleh dengan sengaja menipu dan menyakiti individu lain. Karena asas etika yang digunakan harus berdasarkan manfaat bersama, berdasarkan perlindungan hak-hak asasi manusia, dan keadilan.
Sejak dulu ada perbedaan yang mendasar antara dunia barat dengan dunia timur. Dalam satu hal mereka adidaya mengalahkan negara timur, namun dalam hal lain yang umum mereka sangat tidak beretika.tentu saja dengan diwakili oleh pernyataan-pernyataan tokoh barat diatas. Sangat disayangkan sebuah organisasi yang besar tersebut kemudian menganggap etika hanyalah akan menghambat sebuah kesuksesan. Memang dalam suatu sistem kapitalis, kerakusan adalah bahan bakar utama yang memacu mesin tersebut, dan etika dengan segala upayanya berusaha melawan kerakusam tersebut.
Praktik berorganisasi yang tidak sehat tidak akan menumbuh kembangkan profesionalisme dan etos kerja yang tinggi, melainkan justru akan menjadikan pilar-pilar kemandirian semakin rapuh dan keropos. Dalam era global praktik semacam ini tidaklah mungkin dapat dilestarikan jika perusahaan/organisasi bisnis ingin tetap survive. Tidak dapat dipungkiri bahwa krisis dan kehancuran ekonomi dan politik yang terjadi di negeri ini disebabkan oleh rapuhnya etika dan moralitas para  pebisnis dan para regulator (pengambil kebijakan). 
Praktik berorganisasi yang tidak sehat dapat didistorsi dengan upaya penegakan standar-standar etika dan moral bagi para pelaku bisnis dan organisasi terkait secara sungguh-sungguh. Salah satu standar etika yang semestinya sudah harus dikumandangkan adalah standar etika bagi para profesional (kode etik profesi). Dengan berbekal kode etik tersebut seorang profesional organisasi diharapkan senantiasa menjunjung tinggi etika profesionalnya yang terefleksi dalam setiap tindakannya sehingga pihak yang terkait dengannya mengakui kompetensi, integritas, dan objektivitasnya.


DAFTAR PUSTAKA

  1. http://www.bpkp.go.id/unit/investigasi/kultur.pdf
  2. http://aaipoel.wordpress.com/.../masalah-etika-dalam-organisasi/
  3. http://massofa.wordpress.com/2008/11/17/pengertian-etika-moral-dan-etiket/
  4. http://luzman-interisti.blogspot.com/
  5. 5.      Lain-lain lupa


[1] Dikutip dari http://massofa.wordpress.com
[2] Dikutip dari http://luzman-interisti.blogspot.com/
[3] (Solomon & Hanson, 1985) dikutip dari http://aaipoel.wordpress.com
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...