Thursday, December 10, 2009

Contoh Script Film : JAM BEKER TENTANG KALENDER

Actor : Lelaki, Wanita, Cowok, Perempuan, Dosen,

01. INT. KAMAR. MALAM. H1
Pemain : Lelaki
Properti : Meja, jam beker, jam dinding, kalender, spidol
ES : Suara malam
Take 1 : Sekujur tubuh lelaki
Take 2 : Kalender
Take 3 : Tangan lelaki yang bergerak
Take 4 : Lelaki itu membuka kalender
Take 5 : Mata lelaki
Take 5 : Tanggal lima januari

02. OUT.HALAMAN KAMPUS. PAGI. FLASH BACK 1
Pemain : Lelaki, Wanita
Properti :
Take 1 : Wanita yang tersenyum
Take 2 : Lelaki
Take 3 : W : Kita akan menjalani hidup yang indah (tersenyum)
Take 4 : L : tersenyum
Take 5 : “Maukah kau?”
Take 6 : “Tentu saja”

03. INT. KAMAR. MALAM. H1
Pemain : Lelaki
Properti : Meja, jam beker, jam dinding, kalender, spidol
ES : Suara malam
Take 1 : Bibir yang tersenyum
Take 2 : Membuka kalender
Take 3 : Tanggal 2 Februari

04. OUT. KAMPUS. PAGI. FLASH BACK 2
Pemain : Lelaki, Dosen
Properti : Sepeda motor,
ES :
Take 1 : Dosen, “Besok ada lomba desain iklan di Surabaya, kamu harapan satu-satunya. Saya tunggu disini jam 10 tepat”
Take 2 : “Iya” mengganggukkan kepala, tersenyum.
Take 3 : tersenyum.

05. OUT. JALANAN. PAGI. FLASH BACK 2a
Pemain : Lelaki
Properti : Sepeda motor, Tas, Kertas2
ES : Jalanan
Take 1 : Starting berkali-kali ditengah jalan.
Take 2 : Melihat bensin, habis. Ia menuntun sepedanya.
Take 3 : Penjual bensin
Take 4 : Menaiki sepeda motornya
Take 5 : Sampai di kampus, jam 11.00, tidak ada orang sama sekali.

06. INT. KAMAR. MALAM. H1
Pemain :Lelaki
Properti : Meja, jam beker, jam dinding, kalender, spidol
ES : Suara malam
Take 1 : “……(kata jorok)……”
Take 2 : Membuka kalender
Take 3 : Tanggal 20 Agustus

07. OUT. JALANAN. PAGI. FLASH BACK 3
Pemain : Lelaki
Properti : Tas ransel,
ES :
Take 1 : Mencari tumpangan di jalanan.
Take 2 : Melihat uang di dompet yang tinggal 3.000

08. INT. RUMAH. PAGI. FLASH BACK 3a
Pemain : Lelaki, Perempuan
Properti :
ES :
Take 1 : Kau harus pulang tanggal 20 nak, harus.

09. INT. KAMAR. MALAM. H1
Pemain : Lelaki
Properti : Meja, jam beker, jam dinding, kalender, spidol
ES : Suara malam
Take 1 : Sorot mata
Take 3 : Membuka kalender
Take 4 : Tanggal 30 Agustus

10. OUT. HALAMAN KAMPUS. PAGI. FLASH BACK 4
Pemain : Lelaki, Wanita
Properti :
ES :
Take 1 : “Aku harus pulang”
Take 2 : Wanita itu menyerahkan uang lima puluh ribuan. “Pakai saja”

11. INT. RUMAH. PAGI. FLASH BACK 4
Pemain :Lelaki, Perempuan
Properti :
ES :
Take 1 : P : “Operasinya selesai, tapi ayahmu meninggal”
Take 2 : L : Muka sendu

12. INT. KAMAR. MALAM. H1
Pemain : Lelaki
Properti : Meja, jam beker, jam dinding, kalender, spidol
ES :
Take 1 : Menangis beberapa waktu
Take 2 :
Take 3 : Membuka kalender
Take 4 : Tanggal 12 Oktober

13. INT. KAMPUS. PAGI. FLASH BACK 5
Pemain : Lelaki, Dosen
Properti :
ES :
Take 1 : “Nilaimu hancur, mungkin kau harus mengulang tahun depan”
Take 2 : Lembaran kertas Jawaban Ujian, 25.

14. INT. KAMAR. MALAM. H1
Pemain : Lelaki
Properti : Meja, jam beker, jam dinding, kalender, spidol
ES : Suara malam
Take 1 : “Takdir ini Tuhan, Betapa sulitnya”
Take 3 : Membuka kalender
Take 4 : Tanggal 3 Desember

15. OUT. HALAMAN KAMPUS. PAGI. FLASH BACK 4
Pemain : Lelaki
Properti :
ES :
Take 1 : Melihat wanitanya duduk berdua dengan cowok lain.
Take 3 : Melihat wanitanya duduk berdekatan di kantin.
Take 4 : Melihat wanitanya pergi di bonceng lelaki lain.

16. INT. KAMAR. MALAM. H1
Pemain : Lelaki
Properti : Meja, jam beker, jam dinding, kalender, spidol
ES : suara malam
Take 1 : Tanggal 17 Desember

17. OUT. HALAMAN KAMPUS. PAGI. FLASH BACK
Pemain : Lelaki, Wanita
Properti :
ES :
Take 1 : “Kurasa hubungan kita harus di cukupkan”
Take 2 : “Mengapa?”
Take 3 : “Sudahlah…”

16. INT. KAMAR. MALAM. H1
Pemain : Lelaki
Properti : Meja, jam beker, jam dinding, kalender, spidol
ES : suara malam
Take 1 : Duduk berdiam diri, jam dinding menunjukkan pukul 11 malam.
Take 2 : Ia memejamkan mata, tertidur sejenak,
Take 3 : Suara malam
Take 4 : Ketika terbangun jarum jam menunjukkan pukul 12 malam kurang.
Take 5 : Ia bangun dan melihat kalender,
Take 6 : Mengambil spidol dan melingkari tanggal 30 Desember.
Take 7 : Jam dinding pukul 23.59
Take 8 : Melihat jam dinding terus menerus.
Take 9 : Jam dinding berdetak, mendekati 24.00.
Take 10 : Jam menunjukkan pukul 24.00
Take 11 : Ia mengambil kalender itu, dan menggantikannya dengan kalender tahun baru. Ia letakkan juga jam beker.
Take 12 : “Semoga menjadi tahun yang bahagia. Kumohon Tuhan”
Take 13 : Jam beker
Take 14 : Kalender.

Maaf, boleh dijiplak untuk di pakai belajar tapi jangan di akui. He2

Candra Kirana

Seiris bulan tergeletak di telaga
Ditemani sebuah cinta yang luka

Disepucuk rindu ku mengenangmu
Tak pernah tercipta perempuan sempurna sepertimu
Yang mengecup langit-langit kalbu

Datanglah, usap air mata yang selalu tumpah di wajahmu
Kabut yang silih berganti membayangi kenyataanmu
Mambuatmu kuat, memilih kehidupan bahwa aku bukan untukmu

Aku bisa memujamu
Dalam sepi-sepiku, dan keramaianmu
Dalam sedihku, dan kebahagiaanmu
Dalam ketidakberdayaanku tuk dapatkan cintamu

Kau telah memilih,
Dan disana matahari cerah kan segera tenggelamkanmu
Meninggalkan kunyuk yang tak tahu diri, merindukan rembulan

O…wahai candra kiranaku,
aku kan memujamu,
dalam setiap langkah kehidupan
dan dengan setia menjadi bayangan
tuk iringimu sampai kau jemput kebahagiaan

aku tidak pernah tahu tangismu,
juga air matamu yang kau tahan demi aku,
aku tidak pernah tahu cintamu,
dan segala perasaan sayangmu padaku,
namun aku percaya kau alirkan air mata itu,
aku percaya kau berkorban banyak untuk sesuatu,
yang sangat tidak berguna bagimu, dan itu aku.

Tenggorokanku mulai kering
Lidahku mulai kelu
Namamu tidak sembarang kusebut,
Meski ritual dan memohon ijin padamu,
Berikan kekuatan padaku sayang,
Ku sebut namamu dengan nama Tuhan
Disamping seorang utusan, Yuli…
Seperti gurun yang tak bersahabat dengan hujan
Cinta kita menjadi jasad yang tak memiliki ruh
Berdiam diri menanti takdir yang kan runtuh

Kau tahu, malam yang beranjak menuju pagi
Kini tiada terjadi lagi,
Gelap itu terus saja membayangi
Luka dan sayatan cinta ini,
Aku mencintaimu,
Maafkan keterlambatanku…


November 2009

Wednesday, November 11, 2009

Budaya Sebagai Faktor yang Mempengaruhi Tumbuh dan Berkembangnya Opini Publik


Masih ingat dukun cilik Ponari asal Jombang? Sebelum diberitakan oleh media, Ponari telah lama dikenal –paling tidak dalam beberapa bulan- oleh orang-orang kecil di kabupaten sekitar seperti Lamongan, Mojokerto, dan Bojonegoro. Jadi apakah yang membuat nama Ponari begitu terkenal meskipun tanpa liputan media?

Budaya tidak akan bisa dilepaskan dari sebuah komunitas hidup yang di huni banyak orang. Dalam satu kurun tertentu, baik disengaja ataupun tidak, terlepas dari baik dan buruknya, sebuah budaya akan terbentuk berdasarkan kesepakatan-kesepakatan yang ada dalam masyarakat. Sebenarnya kebudayaan inilah yang mempengaruhi segala tingkah polah kehidupan kehidupan yang dijalani. Sebuah masyarakat yang dengan kebudayaan yang maju akan membawa masyarakatnya menuju ke kemajuan, sebaliknya, masyarakat yang berkebudayaan rendah, berkebudayaan yang tidak maju, maka keterbelakanganlah yang akan terjadi.

Dalam pengaruhnya terhadap terjadinya opini publik ini kemudian menjadi sangat menarik kalau kita kaitkan dengan kebudayaan masyarakat indonesia –atau bangsa indonesia terserahlah-. Jadi ini adalah masalah kita, kita orang indonesia. Dalam perjalanan waktu kebudayaan di dunia ini, paling tidak telah dirumuskan menjadi tiga gelombang menururt Alfin Toffler, yaitu :

a. Gelombang culture (lisan)

b. Gelombang tipografi (tulisan)

c. Gelombang audiovisual (lisan dan tulisan)

Kita tidak akan membahas kesemuanya. Namun satu hal yang lagi-lagi menarik adalah menurut tahapan gelombang komunikasi tersebut, bangsa indonesia sebenarnya berada dalam urutan teratas. Indonesia masih berada dalam gelombang yang sangat awal untuk sebuah kemajuan. Bisa saja kita sangkal bahwa diindonesia kita sudah memiliki stasiun televisi dan teknologi canggih tentang media infoemasi sehingga kita bisa juga disebut pada gelombang ke tiga. Tetapi sungguh lihatlah kenyataan yang ada, bahwa bangsa Indonesia sama sekali belum menyentuh gelombang tipografi yang sangat mengagungkan sebuah tulisan (buku dsb). Kita ribuan kali mencanangkan gerakan “Ayo Membaca” namun masih saja sulit untuk membentuk sebuah kebudayaan membaca. Marilah kita sadarai bahwa telah terjadi apa yang di sebut pelompatan budaya (jump culture) dalam bangsa ini. Kita tergagap dengan audio visual, bingung menyikapinya dengan seperti apa. Tetap saja kita mengotak-atik lisan kita untuk mencurahkan isi hati, untuk mengkritisi kebijakan, bahkan untuk menggugat saja kita sangat sulit untuk menuliskan. Bangsa yang sangat sulit.

Dalam kebudayaan inilah kita hidup. Coba saja ada suatu peristiwa yang ditayangkan oleh sebuah media massa maka peristiwa itu akan digunjingkan, dibicarakan dari mulut satu kemulut yang lain dengan berbagai asumsi dan dengan penuh perhatian. Padahal mungkin kita sangat paham bahwa peristiwa itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan kita. Memang kejadian seperti ini juga sangat didukung oleh sebuah media massa yang ahli dalam membentuk skizofernia dalam masyarakat. Namun kebudayaan lisan, spesifikasinya adalah gosip memainkan peran penting dalam kemudayaan lisan seperti yang telah disebut diatas.
Kita tentu tahu stereotip tantang kebiasaan perempuan-perempuan desa (maaf masalah gender) yang berjajar mengambil kutu rambut (petan ; jawa). Tentu mereka akan sangat asik untuk memperbincangkan suatu masalah yang walaupun hanya sekedar ngobrol. Namun faktor ini juga yang mempengaruhi tersebarnya suatu masalah publik. Dan begitu ada suatu hal baru yang dirasa cukup sensasional dan pantas untuk di perbincangkan tentu mereka akan mengikutinya dan merubah topik pembicaraan ke permasalahan baru tersebut.

Masalah kebudayaan seperti ini kadangpula tidak hanya murni menyangkut budaya, namun faktor psikologi sosial dan sosial politik harus pula dijadikan pertimbangan. Seperti cepat berpindahnya pembicaraan masalah yang satu ke masalah yang lain, menganggap basi masalah yang telah tergantikan dengan masalah yang baru, dan kadang secara sosial menyembunyikan fakta yang satu serta memunculkan fakta yang lain, ini bisa jadi sangat politik. Budaya yang sudah dimasuki politik. Mengingat pencitraan para elite atau partai politik sekarang tidak cukup menggunakan teknologi tapi langsung terjun kemasyarakat dengan menghembuskan isu-isu tertentu.


Tuesday, November 10, 2009

Pengaruh Media Massa dalam Pembentukan dan Dinamika Opini Publik

“Anda sedang memasuki Abad Informasi, dan inilah satu-satunya jalan yang akan merubah hidup anda sepanjang masa. Mulailah hari ini, bergerak dan ikuti arah hidup anda yang paling benar dengan Tiensi International”

Diatas adalah iklan yang sangat memukau. Bagaimana sebuah produk multilever marketing dijadikan standar kebenaran untuk sebuah kemajuan di abad informasi ini. Tidaklah salah mereka menggunakan klaim seperti itu, tidak ada yang salah dan benar dalam media. Semuanya bisa di manipulasi dengan menciptakan realitas-realitas yang sama sekali terputus dengan realitas sebenarnya, istilah yang tepat adalah skizofernia. Berkali-kali kita mendengar bahwa ini adalah abad media, atau abad informasi. Media menjadi hal yang sangat penting sehingga kemudian muncul ungkapan siapa yang menguasai media maka dia adalah pemenang, apapun, politik, bisnis, bahkan untuk penggalangan dana sosial. Media menyediakan informasi yang tiada habisnya untuk dkonsumsi, media menjadi pengatur kehidupan, setiap pakaian kita, setiap langkah kita, bahkan kita tidak tahu bahwa apa yang didepan kita adalah semua yang telah ditayangkan oleh media.
Semua kalangan masyarakat kini bisa dijamah oleh media massa, mulai radio, surat kabar lokal, sampai internet memiliki pangsa pasar yang berbeda dan menyeluruh pada lapisan masyarakat. Media massa memiliki kemampuan untuk memberitahukan kepada masyarakat atau khalayak tentang isu-isu tertentu yang dianggap penting. Ketika sebuah peristiwa tidak pernah diberitakan oleh media massa, maka sebesar apapun peristiwa tersebut dan seesensial apapun tidak akan dikenal oleh masyarakat luas, maka itu berarti juga tidak akan bisa menjadi opini publik.
Tentunya masih ingat teori yang digagas oleh Maxwell Mc Combs dan Donald Shaw tentang Agenda Setting. Sebuah teori yang bila kita cermati, kadang membuat kita sadar diri tentang pengaruh media yang sangat luar biasa ini. Teori agenda setting merupakan salah satu teori tentang proses dampak media atau efek komunikasi massa terhadap masyarakat dan budaya. Jadi media massa tidak hanya memiliki kemampuan sekedar memberitahukan/menginformasikan tentang suatu peristiwa, namun juga menekankan suatu peristiwa itu sehingga akan dianggap penting atau tidak oleh masyarakat. Gampang saja, dengan sering memblow up peristiwa tersebut secara massif dan berulang-ulang/redundan maka peristiwa tersebut dengan sendirinya akan dianggap penting oleh khalayak. Lebih jelasnya, teori ini berbunyi “media massa, dengan memperhatikan pada beberapa isu tertentu dan mengabaikan lainnya, akan mempengaruhi opini public. Orang cenderung mengetahui tentang hal-hal yang disajikan oleh media massa dan menerima susunan prioritas yang ditetapkan media massa terhadap berbagai isu tersebut”. Saya ulangi, jadi teori ini membentuk persepsi khalayak tentang apa yang dianggap penting. Topik yang lebih banyak mendapat perhatian dari media massa akan menjadi lebih akrab bagi pembacanya, akan dianggap penting dalam suatu periode waktu tertentu, dan begitu pula sebaliknya bagi topik yang kurang mendapat perhatian media massa akan dilupakan oleh khalayak.
Jadi sangat mungkin kita duduk disini dan mempelajari abjad mulai a-z adalah perintah dan pengartian kita dari sebuah pesan media massa. Ketika kita pergi ke toko hendak membeli sabun, maka yang pertama kali keluar gambaran tentang sabun adalah apa yang sering di iklankan oleh televisi. Apakah kita sadar? Bahkan bisa jadi kitalah yang dijalankan oleh sebuah media, bukan kita yang menjalankan media. Ironis.
Istilah lain untuk ini adalah hiperrealitas sebuah media. Secara gamblang Hiperrealitas berarti kecenderungan membesarkan satu fakta dan menyembunyikan fakta yang lain. Media mampu menyembunyikan realitas yang ada dan mengadakan sesuatu yang tidak nyata. Bukan masalah film horor, tapi ketika kemarin kita melihat tayangan langsung disalah satu stasiun televisi pidato Abu Rizal Bakrie dalam rangka Ulang Tahu Parta GOLKAR yang ke-45, yang memberikan pujian dan sekaligus penghargaan Adi Luhur kepada almarhum Soeharto, dan kemudian disusul oleh seluruh stasiun televisi yang menayangkannya, dan media cetak keesokan paginya, tentu ini namanya menghidupkan soeharto yang sudah mati. Sedangkan kita tahu bahw pelik permasalahan Korupsi dan KPK belum selesai. Maka sejenak media mengalihkan perhatian kita tanpa sadar.
Hal lain yang membuat media sebagai raja yang bisa mengoperasikan jalannya opini publik adalah kemampuannya untuk menyedot perhatian rakyat kecil (grass root) agar seolah-olah ikut merasakan, ikut merasa penting, dan seolah-olah dilibatkan dalam suatu peristiwa atau kejadian. Disini media tidak hanya mencetak agenda setting masyarakat tapi juga ikut menetapkan penting tidaknya suatu peristiwa, ikut menentukan hal apa yang harus ditonton dan yang tidak harus ditonton oleh masyarakat.

Friday, November 6, 2009

Seuntai Kalimat Rayuan

Bismillah,
Atas nama keabadian kuukir sebuah nama dalam palung hati
Aku menari dalam kelenaanku, gemborkan sebuah nama yang sunyi
Aku menilik hati, tertemukan sebuah wajah tertunduk pilu mengharu,
Menyuarakan sakit yang sayup-sayup menutupi semua rayuan kehidupan
Ah, suara-suara itu adalah kekosongan yang mendayu
Merayu tuk dapatkan pujaan dan tenggelamkanku dalam bengawan cinta
Yang busuk,
Aku tertawan dalam makna puisiku sendiri, hilang dalam kabut
Inginku sampirkan segala luka dan darah yang membiru, membusuk lagi...
Busuk dalam hemoglobinku, aku tertawan, tapi apa yang aku malah lakukan?
Aku mencintaimu, dalam ketertawananku,
Aku mencintamu, dalam sendi yang menggoyangkanku..
Aku mencintaimu, dalam sumpah dan janjiku,
Aku mencintaimu, atas Tuhan yang menertawakanku..

Inilah kegundahan yang itu kasih,
Resah dan semua hamparan tentang rasa yang gagu
Menculik kesadaranku, selalu melahirkan wajah-wajahmu

Inilah kesungguhan itu kasih, yang kuucap tanpa kelu
Menderu dalam setiap hembusan nafasku, dan guratan yang tercetak pada tiap empirismu
Sang Plato akhirnya berakhir pada kekandasannya akan kenyataan
Dan Aristotetlemupun terantuk batu idealisme, aku mencintaimu
Melewati batas nyata dan ideologi yang mereka ungkapkan
Terbebas dari semua kasidah-kasidah, dari dogma-dogma, tentang apa yang sudah berlalu
Tuhan tidak terlalu bodoh untuk membuat sesuatu,
Yang sama peristiwa dan lakon kehidupan pada takdir yang telah tertanam

Aku masih menari dalam guratan-guratan takdir,
dan catatan-catatan Tuhan tetap membelengguku
Pada waktu yang sempat teteskan zat warna atas benci dan cinta
Ku telungkupkan mukaku pada kosakata dan mosaik-mosaik ini,
terpecah menjadi bentuk yang tak pernah kumengerti maksudnya
Selalu sunyi, cinta hadir memberikan wewangian misik pada kesunyian
Menidurkan berhala dunia ini menuju peraduan yang indah bak surga yang menggiurkan
Kehati-hatianlah perlu kau tahtahkan karena jebakan-jebakan cinta adalah maut,
yang izrail berdiri membawa belati disanggulkan pada urat leher tanpa jemu.
Kau harus memburu Izrail, atau Tuhan mendapatkanmu, sedang hatimu tersangkut.

Yang telah tesebut adalah sepenggal memori tentangmu kasih,
Tak usai, waktu yang merenggut tentang cerita kita
Tak berbelas kasih
Kuulur waktu inginku
Mencerca pada matahari yang menggelincir
Manyulut musuh pada bulan yang mengambang
Mengentikan perputaran poros dan revolusi bumi
Ah ja, dimana waktu bisa kuhenti dengan segala ingin hati?
Kenapa kisah ini begitu cepat pergi, sedang kau masih menungguku disana
Masih kulihat lekuk pipimu yang ayu,
Dan kucecap air matamu akan kepergian kita
Mungkin Tuhan pilihkan yang terbaik ;ucapmu selalu

Kekasih
Seperti serenade yang menaungi gadis-gadis mozart
Ku senandungkan lagu tanpa suara padamu tuk usir sepi
Apa lagi yang bisa kuperbuat?
Syair-syair yang kulantunkan pada keheningan
Bait-bait yang kutitipkan
Nyanyian yang ku lamatkan pada Tuhan
Semua di bawa angin hilang atas terpaan
Lalu untuk apa semua pucuk rayu, menggugah asa
Tentang aku hanya mencintaimu, namun akhir adalah terkapar tak ada daya

Maka tangislah yang kupahatkan
Dengan tinta emas, pada hatimu ini kan tersimpan


Kekasih
Semisal Adipati Karna yang telah sumpah setia pada Astina
Atas nama ksatria tak kan ada panah Arjuna yang menembus jantung
Dan luluh lantakkan semangat sebuah janji, tak pernah jua
Janjiku akan mengharu dalam biru laut terdalam
Menyeru namamu dalam tiap lelakuku bersemayam
Karena syair yang lama kurekam
Tak juga bisa tembus bara dalam sekam,
Kecantikanmu telah merenggut semua hati yang tertanam
Keindahanmu melingkupi setiap matahari hendak terbenam

Kekasih
Sejak kau ulurkan hasratmu pada rinduku
Sebentuk dunia mungil mengganggu alamku
Seumpama singa hadir ditengah kawanan sabana
Pendar-pendar cahaya menaungi setiap jalan kesepianku
Ketenangan dan kemesraan menggandeng tiap sunyi yang meragu
Seumpama gelap tersakiti oleh pagi menjelang
Subuh yang datang membawa cahaya,
Kaulah obor dalam pekat hati yang gulita
Jangan kau pergi karena kaca yang telah terpaut pada panasmu
Akan pecah karena es yang kau duga bisa sembuhkan lukaku

Kekasih
Rintik hujan yang merajut kelam masa
Adalah kesedihan yang merayap menyebar luka
Malam yang lagi-lagi tak bisa kau rasa
Adalah sebuah pertanda puncak bahagia
Bukan denganku

Kekasih
Perjumpaan ini begitu mesra
Indah, saat hari terisi senyum pipit manismu, menggelayut manja
Malam-malam yang kau isi dengan suara sedu dan tangis penyerahan cinta
Perjumpaan ini tak kan terlupa, dalam setiap kata yang terucap kan ada rasa
Sayangku, cintaku, kan bermetamorfosa
Menjadi sebentuk cincin pernikahan kita, melingkupi jemarimu dengan bahagia
Pesona yang kau pancarkan tetapkan jadi sebuah jelaga
Pada dahaga
Tuhan telah terlanjur tahu akan sebuah rahasia
Yang kita janji akan jaga selamanya
Tuhan telah terlanjur tahu akan sebuah dosa
Yang aku tidak akan pernah bertobat karenanya











Mencintai seseorang sama artinya rela menjadi tua di sampingnya

4 November 2009

.................................................................

Tak henti jemariku
Memilah, dan otakku yang lumpuh
Memilih, setiap saksi biksu
Memutar abjad jadikan bicara lugu
Aku tak mampu

Kau nyanyikan suaramu selembut sutra
Hatimu takhluk karena matamu telah kubuat buta
Karena tarian kata
Mengalun indah dalam memori menggoda sukma
Kau terlena
Tak tahu bahwa kata menjelma, bisa saja
Kubuat dan aku mendustakannya

Namun tak hendak kuulang sebuah kesalahan
Sebuah kerinduan yang menggunung ini kupertahankan,
Menyakitkan,

Kusiram sebisa raga, kurengkuh semampu jiwa
Menumbuhkan kalimat-kalimat sakti yang lumpuhkan logika
Kau tertawan dalam nyata, menempuh cinta
Pertaruhkan segala duka dan luka yang kan datang menyiksa
Saat gari itu tiba, tangis mungkin yang kau kan pilih sementara

Akhirnya kumaknai setiap barisan takdir
Bagaimana kucerminkan dalam penuh ku berfikir
Mengurai bahagia, menyayat derita
Memuja sastra dengan rengkuh fatamorgana

Terlaksana juga,
Semua karena cinta
Cinta kan mematahkan segala
Kebodohanku kini luluh tiba-tiba
Kebingungan hilang entah kemana
Kau tahu, betapa kau begitu berharga
Menjalankan ini semua, tentu sepenuh cinta
Ku bersyukur, berterimakasih tanpa batas pada yang esa
Akhir kata, kutahu ini dosa.
???


Penjelajah Hati

Ditanah padang gersang, ditemani pepohonan dan bebinatang,
kau pancarkan cahya, dan silau itu membekas,
kini cahya itu menerobos jendela yang sengaja kututup rapat,
kekhawatiran akan cinta mencuat,
maka bacalah ayat sucimu, dan berikan penawar racunmu


Bismillah kuutus sebuah sajak, makna menggeliat dalam sunyi
padamu yang baru kukenal, menjelang ufuk diulu hati
di selam rasa, angan, dan cita, kau menjelma
pada mimpi yang tiba-tiba ada

kau genggam bara yang membuat luka dalam
ditanganmu membekas rindu pada Tuhan
maka jagalah apa yang ada, jelang godaan
bahwa bara takkan padam

kepercayaan hati kini, terasa aneh, tidak kukenal lagi
pintu rapat ini, menerawang sisa-sisa cahyamu yang murni
kau anugerah tuhan, yang mencoba mencumbu hatiku agar takhluk dihadapan
dan tuhan tertawa sembari acungkan dua cawan; surga dan neraka adalah pilihan
ku kutuk diriku kemudian, kutahu bahwa dunia hanya permainan
tapi tak tahan wajah yang merayap melalui malam yang sepi terkena terpaan

tuntunlah diriku,
jauh jalanku berliku memburu waktu
kata megah yang kuucapkan tak pernah terlukis indah
ini kuncup yang mekar dibawah sinar cahya semakin resah
kutemukan diriku sendiri tercermin dalam tiap langkahmu
dan lelah yang kujalani, menemukan jalan pulang yang bisu

masuklah dalam serambi jiwaku,
kuhidangkan segelas wangi bunga surga
namun tak apa jika yang terasa adalah panas neraka
karena kau kan ajari aku cara meramu zat cinta

ini hatiku kuserahkan padamu
selami dalamnya ilmu, dan kutuk ketidakberdayaanku
jika kau temukan zamrud berkilau, pastilah debu
menyelimuti sejak zaman melahirkanku

mari kuantarkan cinta di lapang dadaku
petik semua yang bisa kau gapai, bahkan sepucuk rindu
akan bulan yang di gantung awan hingga hanya hamparan
sisiran terang yang sempat tersamar sebuah bayangan

mungkin telah kau jelajahi gelap di senja kotamu
dan jalanmu tetap tegak, pandangmu semakin tajam
maka ulurkan tanganmu yang dipelihara Tuhan
sambut cobaan, sampaikan pada kasih tanpa akhir
karena aku, tak kan mati
Hingga kutemukan kasih
yang genggam jemariku
dengan alir air mata, basahi kemejaku

aku tak kan mati,
hingga malam tak lahirkan pagi
hingga kutemukan kasih suci
dan Tuhan yang menanti

10 September ‘09

Perempuan yang Luka

perempuan yang kuat
juga akan terjegal dalam hasrat
tentang sakit dan derita yang berkarat


telah kau jalani pahit
namun tak surut langkah
dan kini dipertemuan yang kesekian
kau sambut dengan kelelahan

mendung wajahmu menyirat luka
senja yang dulu kau halau, kini diam-diam muncul dipelupuk mata
aku hening meresat pukau, perempuan kuat itu mengucap makna
mengapa kau bersembunyi cinta?

Kau yang ku kenal dalam semalam
Kini hilang meninggalkan onggokan sisa dalam sekam
Kau palingkan wajahmu berkali-kali
Seperti lelah dengan semua yang kau jalani

Kesadaran-kesadaran telah kau jahit dalam lukaku
Tiada pernah indahnya jarum yang mampu
Satukan jaring-jaring fibrin yang bergumul dalam pilu
Mendung duka yang mengabadi, kini lenyap tersapu
Kau adalah angin segar bertiup dari puncak, janganlah ragu
Sadarlah, atas semua yang berlaku

Mungkin takdir sulit kau cerna
Tekanan dan godaan hidup hilangkan makna
Dan hatimu yang diliputi nestapa
Bertambah sesat dalam lafalkan irama
Setiap do, setiap re, setiap mi, adalah sebuah bahagia
Itu yang kau lupa

Maafkan jika sahabatmu berbuat nista,
Semua dosa, dan pahala yang kau kejar berakhir pada kehendak-Nya
Ini kuhaturkan segala rasa, kasih dan sayang, dan semua penyesalan
Bacalah ayat sucimu yang dahulu kau lantunkan
Pada jiwa yang rapuh, muka yang masam, dan seluruh kebencian
Lagukan indahnya islam, sambut kami yang kan bertahan
Pada segala khilaf dan semua yang engkau lakukan.