Tuesday, January 26, 2010

Ini Aku Datang

Aku datang dengan sebuah cinta
Yang terpendam sejak sajak terakhir telah lama
Hilang berlaput awan berlumur debu
Dari sebuah angan-angan pada malam
Sejak hujan mengikiskan rindu yang mencekam

Mimpi-mimpi,
Selalu saja tentang harapan yang terpasung
Pada zigzag kenyataan disore yang lembayung
Disetitik cahaya yang masih ada
Mimpi-mimpi, adalah rahasia

Ini kuserahkan segenap pungkasan
Dari tiap kehidupan yang sempat kujumput paksa
Sang takdir kan memupuskan semuanya
Jangan galau pada kemurungan bercak hujan
Disana tumbuh keluarbiasaan, dan sedikit kecembruan

Ini,
Aku datang dengan sebuah hati yang putih
Kuharapkan tangismu membasahinya
Dan tawamu membakarnya menjadi puing
Agar terbebas lunas segala lara
Tertebus sudah segalah salah
Maka telusuri lagi
Jejak mana yang hendak kau tulis ditapakku
Pengembaraanmu tentang kisah sedih telah pupus
Cukup disini kan kuhapus
Cerita tentang air matamu yang tak pernah kering

Jangan takut lagi bermimpi kasih
Ku disampingmu menuntun tangan
Agar berjumpa lagi pada pucuk-pucuk kebahagiaan
Yang membimbingmu ketika kau bersama Tuhan

Sempurnakan harapan yang sempat dicegat ragu
Disini tapak tanganku bersiap jaga
Dadaku berlapang segala

Keukuatshu 2

Bila saja tak ada cemburu
Dunia menjadi lelakon sepi yang bisu

Semenjak rasa tercipta
Tuhanpun telah tahu tentang cerita yang kan ada
Bahwa Habil dipersembahkan untuk rasa
Tercatat dalam sejarah yang pertama

Ini tentang keukuatshu
Tentang para arwah yang cemburu
Sejak aku jatuh cinta pada bulan
Dan ia genggam hatiku dengan kegelisahan
Gelisah yang sempurna
Ketika kutahu, kambodja menjadi tak berguna

Kasih,
Kini kuhanya bisa melihatmu jauh disana
Bagaimana kuantarkan mawar putih ini
Menjadi penghias meja pengantin kita,

Kasih,
Tidurlah dalam lelapmu yang hening
Ini kuantarkan kidung suci yang senyap,
Mengiang ditelingamu
Akan bergulat dimimpimu

Kasih,
yang kukenang darimu hanya membayang
Seulam ciuman mesra dipelupuk malam

Hujan

Kau hanya mengagumi hujan
Yang berdetak seperti seribu sepatu kuda
Menerjang prahara

Kau hanya menyukai hujan
Keindahan yang lain hanyalah sekilas bisa
Tentang bulan yang merindu
Matahari yang timbul tenggelam

Kau hanya akrab dengan hujan
Cintamu sekitar tentang rintik waktu
Yang menetes menyerbu hati-mu
Tentang lelaki yang kan bersumpah setia disisimu

Kau hanya inginkan hujan
Saat mendekap mesra kekasihmu yang dingin
Berguyuran rerrintik yang lebat
Kau tertawa dalam keindahan cinta yang sekarat
Kau sadar tentang itu

Kau adalah hujan
Basah bibirmu menjadi pelangi
Membias seribu kasih sayang suci

Kau adalah hujan
Mencintaimu seperti petani yang ragu
Tentang musim hati yang selalu ambigu

Kau adalah hujan

Kita adalah Cinta

Silhuet itu kasih,
Membayangkan kembali pada titik kemesraan
Ditiap kenangan, dunia yang hendak kita cipta

Jauh dibubutan rindu
Menari ribuan kisah yang menjadi cita
Padahal rumah mungil itu sudahlah menanti
Rerumputan hijau telah lama merajai
Sayup-sayup rengekan bocah yang minta tetek ibu
Teriakan-teriakan kecil yang iri karena bahagia

Kekasihku,
Ingatlah kembali pada cinta kita
Kekasihku,
Ingatlah kembali pada janji kita
Kekasihku,
Ingatlah kembali pada kisah kita
Kunanti kau dibawah pohon teduh
Hamparan bebungaan yang sengaja kau pesan
Sejak pertama kali kau ucap cinta dan sayang
Kambodja-kambodja yang menari merindui langkah kita
Bukanlah halusinasi yang menodai arti cinta

Kekasihku,
Eratkan genggaman itu
Biar kukumu menancap halus pada pembulu nadiku
Kuatkan hatimu, sakit dan setia sudah lama mengujiku
Karena kita adalah cinta
Disebuah sudut waktu yang tersia
Pertemuan yang salah,
Cinta yang salah,
Kita adalah cinta
Pada Tuhan kita akan menyerahkannya

Kekasihku,
Kunanti kau di atap dunia
Berselimut embun bunga dari surga

Bila dunia tak lagi punya harapan

Keukuatshu 1

Yang menguasai rasa ketika malam menjelang
Sang dewi yang sendirian
Nantikan perjaka genit yang kan buatkan puisi dan memeluknya
Mencium selembut sutra yang mengalir diantara sesungai
Ah, nyata bibirnya kering oleh penantian

Malam yang gelap tak kan jadikan alasan sembunyikan diri
Pada detik-detik kerinduan yang mencurah segala dendam
Jiwa-jiwa kesendirian adalah hampa
Jika itu kau anggap yang terbaik

Baiklah, mencintai itu sama dengan luka
Sayatan yang tak tembus namun tersekat pada nadi
Darah tersedak untuk mengalir
Pada siapa kan kau ceritakan kesendirian
Pada kunang-kunang yang nyanyikan tembang malam?
Tentu saja bulan itu menunggu tuk dijamah jantungnya
Serigala yang selama ini mencoba akan setia
Dan,
Tetap saja yang ada adalah penantian panjang
Mencintai seseorang yang jauh bukan sebuah pilihan
Cahaya bulan yang memancarkan duka hatinya
Mencari jawaban atas kekasihnya,
Mencari jawaban tentang cerita-cerita

Sia-sia saja,
Ia kini jatuh pada hati yang dalam
Air mata membendungi cita-cita untuk merdeka
Setiap langkah yang terpaut merasakan galau yang indah
Pengalaman akan hidup menjadikan senyum cerah
Ketulusan merajai setiap detak yang dijumput kemilai darah
Kekayaan cinta dan balaghah yang menjegal sukma

Berulang mencoba sadar,
Mengoyak pertanyaan,
Meraba yang telah tersentuh pada ambang keinginan
Jauh disana, seseorang tergeletak ragu
Rembulan pucat masih mencoba halau
Bayang-bayang yang sengaja ia cipta tuk tutupi nyata

“keukuatshu-keukuatshu…tergeletak”

Istana Hujan

Kuukir wajahmu
Diselembar kisah yang perlahan tercipta
Di hitam tinta yang kering
Di semayup senja yang menggiring ketakutan
Disemilir angin basah yang menyuarakan kekidung aneh
Disemlusuk bau yang tiba-tiba busuk

Ah ja,
Tidak,
Biar kutulis namamu diukir batu
Berurat salam yang senantiasa kau ucap
Dari lubuk yang tak pernah tersentuh lagi setelah ini
Didongengi tentang kerinduan pada hujan
Tentang anak-anak kita yang mengelilingi rerumputan
Sedang kita memagut mesra diatas altar keindahan

Mari kita berikan warna pada yang telah kita pilih
Lengkungan yang kita takutkan tak pernah terjadi
Gambaran-gambaran yang kita coret pada dinding mimpi
Mari kita ganti dengan warna putih kamboja yang sering keluar dari
Bibirmu, yang bisa membiaskan perasaan salah menjadi berani
Cinta yang indah kasih…

Mari kita kembali belajar mencoreti mimpi
Tentang angan istana di ufuk bulan yang tinggi
Tentang istana yang tersulam dari hujan, yang kau ingini

Kawan = Busuk

Aku terusik ketika harus membaca bahwa teman adalah tempat nyaman untuk kembali. Bullshit, aku memilih mengasing dari kehidupan ini karena demi melihat teman-teman –ah ja, panggilan apa yang pantas, cecunguk- yang memuakkan. Mereka merdeka dengan keeleganannya. Kukira aku bisa mencukupi kebutuhan emosionalku sendiri. Bagai perawan disarang penyamun, aku menjadi menyesal untuk hidup dikelilingi bajingan-bajingan ini. Akhirnya aku memilih menyendiri, bersembunyi dari takdir yang memintaku dengan baik-baik untuk menjadi seorang pecundang. Aku bersembunyi terus menerus hingga kutemukan duniaku diluar sana. Dunia yang tidak dikurung oleh batok kelapa. Aku keluar dan melihat langit yang ternyata lebih luas. Disini aku bersabung dengan kehinaan dan kemuliaan. Menjadi diriku sendiri yang kucintai, dan kesendirianku yang kucintai.

Masa kecilku yang penuh luka. Menjadi rajin adalah sebuah pilihan yang salah, apalagi pandai. Namun orang tua dan guru-guru kebanyakan tidak menyadarinya. Bagaimana ketika anak kecil memaknai belajar sebagai anugerah yang kemudian hasilnya tidak bisa dinikmati sendiri. Aku terluka parah ketika harus belajar, dan lagi-lagi bapakku yang baik itu melontarkan logam mulia berangka 100 rupiah. Maka aku tidak berani menolak untuk tidak membuka bukuku, belajar dengan sigap dan tepat waktu. Jam Sembilan malam aku harus tidur sedangkan beliau menonton acara tinju dengan volume memekakkan telinga. Mataku nyalang, memandang ibuku yang dekil penuh debu dibajunya. Kupegang tangannya yang kecil, ia terbangun.

; belum tidur to le?

Aku tersenyum, kemudian aku membalikkan badan berharap ibu tidak lagi memperhatikanku. Ternyata ia juga tidak bisa tidur. Ibuku yang harus bangun jam 3 pagi dan memasakkan untuk kami. Jam lima ia sudah tidak lagi dirumah, pergi dengan kawan-kawannya yang cerewet kesawah memungut sisa padi dari si kaya. Sedangkan saat ini beliau tidak bisa tidur karena televise hitam putih yang volumenya terlalu keras. Namun aku tidak berani keluar. Kupaksa mataku. Akhirnya aku terpejam, dan tidurku berselang beberapa waktu hingga aku bermimpi sebagaimana biasanya. Ujian sekolah berlangsung, dan aku disuruh bersusah payah mengerjakan sedangkan teman-temanku –yang bajingan itu- menungguku lamat-lamat sambil tertawa-tawa. Setelah selesai kuharus menyerahkannya pada mereka dan menunggu hingga lembar jawabanku dikembalikan padaku dengan baik–jika aku beruntung-. Tiba-tiba aku terbangun.

Tiba-tiba saja aku menjadi besar. Menjadi tua, kumisku sudah melele. Dan kehidupanku di dunia yang lebih luas, Madura menampungku. Aku dinegeri penjajah negeri sendiri. Orang yang asik dengan dengan dunianya sendiri. Bagaimana kumemaknai orang Madura? Dimana koloni madura, disitu aku muak. Mereka yang tidak mentolelir adat kebudayaan orang lain. Ah, caci maki yang kulontarkan tidak lebih dari keterpurukanku akan hidup.

Aku hidup, benar-benar merasakannya. Terbebas dari bajingan-bajingan yang kapan saja bisa menikam keberanianku. Aku tumbuh dalam keterasinganku, tidak akan terulang lagi aku berkawan dengan para bajingan. Namun ketika ku masuk pertama kalinya dikelasku, entah kenapa aku tidak tertarik sama sekali dengan mereka. Ada kelompok disana dan disini. Beberapa anak yang tertawa-tawa. Dan aku melengang begitu saja dan memilih duduk yang paling belakang. Ada perkenalan disana, kudengar Lamongan, Sidoarjo, Mojokerto, Surabaya, dan Sumatera. Begitu seterusnya, hingga aku berdiri dan kata sama kuucapkan, lamongan. Basi sekali.

*****

Aku berujar pada diri bahwa aku bisa hidup disini, orang akan menemukanku. Maka tidak kupedulikan lagi apa makna dari pesan ayahku ajine diri songko lati ajine rogo songko busono. Kuhirup kebebasan hingga habis, kupupuk dalam setiap langkahku kesdaran. Dan kutemukan tempatku disekian banyak kegelimangan. Dunia hitam kutempuh, yang tak pernah dikenal orang selain sebangsa, tak pernah disentuh pada tangan-tangan kemaruk. Aku melenggok di keheningan angin yang memburu, aku menggenggam disegenap kerinduanku pada damai, kuhabiskan rasaku pada bumi yang kupijak. Aku terbang merdeka dak kurasakan sesak dirongga dada.

Sing luru ngelmu kebathinan tanpo guru
Bakal setan sing nyanding sliramu

Namun apapun yang terjadi, aku mencintai duniaku saat ini. Dunia yang hanya dikenal kami.

Kemudian kabar yang memuakkan itu datang. Undangan; reuni. Ah ja, dan surat dari kawan baikku yang lama tak kukabari bersanding dengan mesra. Ia berkata ;kawan, aku ingin bersungging senyum dengan anak yang lupa pulang ke desa. Kuterawang langit biru, betapa sejuknya bila semua yang disampingku berlaku lemah lembut. Ah, aku mesti pulang.

Kesendirian yang Mengusik

Hidup sendiri kadang merupakan rahmat tiada tara. Bayangkanlah bila kita hendak pergi dan tak ada satupun yang akan jadi pertimbangan, aku mau begini, aku mau begitu, mau ini itu banyak sekali. Terserah saja itu kehendak yang prerogative.

Aku khususnya yang merasakan kesendirian sebagai sesuatu yang nikmat. Bergelut dengan dunia hitam –teater- yang menyeruak dalam kalbu, mereinkarnasi diri sendiri untuk menjadi alam yang sejati. Menghargai sebutir embun yang menetes dari dedaunan dengan meditasi untuk mengenalnya. Sungguh kenikmatan bila kita duduk bersila diatas bumi yang sangat kita kenal. Bau humus yang sejuk, semilir angin yang wangi, dan sesusuk nasi yang meregang dimulut, manis dan gurih. Rumput yang bergoyang sebagai guru kita, tempat kita bertanya apa yang hendak dimaui Tuhan dengan adanya kelaparan dan kebencian dinadi orang-orang yang sok hitam.

Teater begitu gurih, sastra begitu menggugah nalar pikir tuk jadikan alam kauniyah ini ke pemahaman yang menelusuk. Menjadi karang yang mengganjal didada kita, dan kita harus menghancurkannya. Bayangkan betapa indah bila kita melangkah dan tumbuh kesadaran dari telapak kaki kita yang menginjak tanah, bermekaran dunia menjadi mawar putih yang sejuk dimata. Hendak ku jadikan kesendirian sebagai guru tiada akhir, memahamkan aku bahwa banyak yang menyesali kehidupan dengan mencaci maki takdir yang kebetulan bertahan –pepatah eropa, kebetulan yang bertahan selamanya- dijejak dihadapannya. Tak ada yang kebetulan, itulah yang diyakinkan pada darahku. Semua telah ditulis dengan kalam illahi ta’ala. Pertemuanku dengan gelap dan kerinduanku akan bertahan disana adalah sudah tertulis. Dan itu harus berakhir saat ini, pun itu takdir yang harus kupenuhi.

Inilah akhir dan awal. Kesendirianku tiba-tiba pecah berantakan, berhambur menjadi perempuan berkerudung ungu yang memukau. Inilah awal ketersembunyianku pada yang hendak kucapai, dunia hitam mungkin tidak cocok dipadukan pada keadaanku ini. Aku mencoba mengelak pada takdir yang meyakini bahwa takdirku yang lain adalah untuk kembali pada duniaku yang sendiri. Tiba-tiba aku teringat sesuatu;

”aku meninggalkan Leh karena aku muak untuk terus bersamanya. Ia teman yang baik, mencukupiku untuk menghibur bahwa aku tidak sendiri. Namun ia kadang-kadang mengungkit bahwa aku tidak punya cukup uang untuk hidup. Hidupku itu numpang…dan besok ia baik setengah mati padaku. Dia melupakan kesalahannya yang menancap dihatiku. Memang usah kupikir seharusnya, toh ia tidak benar-benar mengucapkannya padaku. Hanya ia keceplosan, ah ja, bukankah yang keceplosan itu kebenaran yang sesungguhnya?”

Maka aku meninggalkan teman baikku itu untuk kembali bersua dengan takdirku.

Kembali mataku terusik oleh seorang gadis. Kenapa selalu perempuan sejak zaman adam? Apakah Tuhan sudah berniat menjebakku seperti Qobil yang harus melakukan dosa besar?. Aku harus mencurigai mau Tuhan padaku. Kalau-kalau ia juga akan menjebakku sebagai Habil, meski baik hati tapi harus mati. Kucengkeram hatiku sendiri, kupahami apa yang kumau, jangan sampai ini cerita tentang cinta, cinta yang berbanding lurus dengan sakit. Maka teringat olehku;
“aku meninggalkan sahabatku satu-satunya kerena telah berubah. Kutahu ia hanya butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan takdir barunya. Ia baru saja menerima keberuntungan dengan fasilitas yang lebih lengkap. Tapi kusudah menyimpulkan bahwa ia bukan teman yang baik. Bagaimana ia bisa meninggalkanku seketika? Kutahu aku lebih rendah darinya, tapi apa itu alas an yang tepat untuk meninggalkan aku, sebagai temannya?”

Aku tidak menyapanya lagi setelah itu. Keesokan harinya aku berada dipojok ruangan kuliahku. Kembali bergelut dengan ruang kosong disekelilingku. Aku mencium aroma kebebasan. Aku nyaman.

Tapi sekarang bayang-bayang perempuan ini lebih menusuk. Aku tidak mau jatuh cinta, tolonglah, aku muak dengan gadis-gadis ini. Perempuan-perempuan sialan, penggoda, diciptakan hanya untuk menggoda. Sialan..ah ja, dia bergeming dan menanyaiku tentang sesuatu; kau jadi ambil apa?

Hatiku berdetak, ah tidak, jantungku yang menggedor ini, bukan hatiku. Tapi ketika kuraba, hatiku tidak merasakan apa-apa. Dimana lagi kusimpan rasaku? Sudah lama kekeringan ini mengisi, dan hujan ini tak mampu seketika menembus.

; kau jadi ambil apa? Kalau filsafat kita benturan dengan opini publik,.
; …
; MP aj ya?
; MP itu apa?
; ya ampun, Metodologi Penelitian,
; oh, iya-iya

Dan hari-hariku seterusnya bergulir dengan perempuan itu. Perempuan yang menarik. Takdirku kusembunyikan dalam-dalam jangan sampai merembes. Kemudian aku mempunyai teman-teman yang menganggapku cerdas, pintar, dan sebagainya. Aku tidak bergeming, ada sedikit rasa sakit yang timbul perlahan-lahan.

Namun perempuan itu telah memenggal takdirku. Ia membimbingku dalam dunianya, yang asing bagiku. Ia mengajariku hidup yang sesungguhnya, tentang mencintai, tentang berkawan, tentang bersabar, tentang perempuan, dan tentang diriku sendiri. Kegelapan itu kian jauh, tubuhku perlahan ada sedikit bau sabun yang menempel. Dan bajuku kemudian menjadi berlipat ganda. Ia memberiku segalanya. Kemudian tanpa sadar kuusap air mataku untuk perempuan yang baru saja ku kenal itu.